Tuesday, 29 November 2011

Kisah awal Olimpic

Kisah sukses Au Bintoro, pendiri Olympic Furniture, diawali tahun 1980. Ketika itu ia merasa bahwa toko furniture terlalu membebani konsumennya dengan ongkos kirim yang begitu besar. Mahalnya ongkos kirim itu disebabkan karena beratnya produk furniture sehingga untuk mengangkatnya dibutuhkan beberapa orang pekerja, selain itu pengusaha furniture tidak dapat membawa banyak barang sekaligus—satu truk kecil hanya bisa mengangkut beberapa meja belajar saja—sehingga tidak efesien. Bayangkan bila meja-meja tersebut harus diantarkan ke alamat pelanggan yang berada di pelosok-pelosok daerah, bukan tidak mungkin ongkos kirimnya lebih mahal dari harga meja itu sendiri.

Au yang ketika itu masih berprofesi sebagai pembuat box speaker memutar keras otaknya agar bisa menemukan meja belajar yang lebih praktis, ringan, dan bisa diangkut dalam jumlah yang lebih banyak dalam satu truk. Au memiliki ide untuk membuat sebuah meja yang dapat dibongkar pasang. Dengan ide ini ia berharap pengangkutan meja jadi lebih mudah dan murah. Namun ia menemukan masalah, penggunaan kayu yang berat bobotnya menyebabkan timbul kesulitan membuat pasak-pasak yang cukup kuat untuk merekatkan bagian-bagian meja.

Ia kemudian mencoba-coba membuat meja dari bahan baku box speaker yang dimilikinya, dan ternyata sukses. Ia mampu menciptakan meja yang lebih kecil, ringan, dan mudah dibongar pasang. Meja belajar baru itu tersusun dari serpihan-serpihan papan partikel dengan perekat sekrup yang bisa di cucuk-cabut. Setiap bagian diberi tanda khusus untuk mencocokkannya dengan bagian lain. Ini mirip dengan mainan bongkar pasang anak-anak.

Produk ini selain mudah dibawa ternyata juga memberikan keuntungan lain bagi penjualnya, yaitu memperkecil biaya penggudangan (storage cost) karena penjual hanya perlu merakit satu produk saja sebagai display, sementara produk yang digudang dibiarkan dalam keadaan terbongkar sehingga tidak memakan banyak ruang.

Walau begitu Au belum memiliki cukup nyali untuk menjualnya secara massal, dan lebih memilih untuk menjualnya berdasarkan pesanan. Suatu hari seorang konsumen memesan meja itu dalam jumlah ribuan. Au girangnya bukan main. Setelah harga disepakati, pengerjaan meja itu dilakukan 24 jam nonstop agar selesai tepat waktu.

Namun malang di tengah jalan order itu diputus secara sepihak. Akibatnya Au terpaksa menumpuk produk dan bahan baku yang tersisa di gudang. Setelah menunggu tanpa kepastian, Au nekad menjual meja pesanana itu ke toko-toko furniture. Ternyata meja-meja itu laku keras dan habis terjual. Ini membuat Au semakin percaya bahwa konsumen telah lama menantikan sebuah meja belajar yang lebih praktis seperti buatannya. Pada tahun 1983, Au benar-benar menekuni bidang furniture dan meninggalkan profesinya sebagai pembuat box speaker. Setahun sebelumnya dia meresmikan sebuah pabrik Cahaya Sakti Multi Intraco yang khusus memproduksi meja (menyusul kemudian tempat tidur, meja serbaguna, lemari hias, lemari pakaian, rak televisi, meja kantor, dan hampir semua jenis furniture.

Au menamai merek produknya “Olympic Furniture” karena terinspirasi dengan Olimpiade XXIII yang berlangsung di Los Angeles pada 1984. Au mengutip ajang olahraga tersebut sebagai label dengan harapan Olympic dapat bergaung sehebat olimpiade yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Inspirasi ini dikemudian hari menguntungkan Au karena konsumen lokal mengenalinya sebagai produk impor meskipun sebenarnya serpihan-serpihan perabot itu semuanya dibuat di Bogor dengan tenaga kerja lokal.

Pada tahun 1997, seperti kebanyakan pengusaha lain, Au mengalami goncangan dahsyat akibat Krisis Moneter yang melanda Indonesia ketika itu. Ongkos pembelian bahan baku membengkak gila-gilaan dan karyawan menginginkan kenaikan gaji, sementara rata-rata 5 dari 10 konsumen membatalkan membelian. Bisnis Au mengalami masa-masa paling suram dan hampir semua rencana besar terbengkalai begitu saja. Gara-gara krisis pula Au terpaksa menjual separuh lahan beserta gedung di daerah Sentul Jawa Barat yang awalnya direncanakan sebagai pusat produksi terpadu, mulai dari pengolahan kayu hingga finishing.

Au mendapatkan ide lain untuk mengatasi masalah ini. Bila sebelumnya ia hanya mengandalkan toko-toko furniture untuk menjual produknya, kini ia bekerja sama dengan peritel besar seperti Carrefour dan Giant. Ia juga bekerjasama dengan gerai kredit Columbia agar konsumen lebih mudah mendapatkan dana untuk membeli produknya. Strategi ini berhasil mengembalikan penjualan Olympic ke tingkat semula, bahkan lebih.

Memasuki tahun 2003 ia menggandeng perusahan furniture asal Jerman, Garant Mobel International dan bersama-sama mendirikan Garant Mobel Indonesia (GMI) dengan 75% saham dimiliki Olympic. GMI bertindak sebagai pemberi hak waralaba yang menghubungkan pemasok dan para peritel mebel merek Garant asal Jerman, dan merek kelas atas milik Olympic. Usaha ini menciptakan merek baru MER yang diwaralabakan dengan biaya minimal Rp.500 juta beserta show room seluas 100 meter persegi. Kerja sama ini menjadikan Au sebagai peritel furniture pertama di Indonesia.
 
Au juga mulai mengibarkan merek-merek baru untuk menguasai pasar, misalnya Solid Furniture, Albatros, Procella, Olympia, dan furniture berharga murah Jaliteng. Diversifikasi produk itu dibuat berdasarkan daya beli target market-nya. Albartos misalnya mencoba menampilkan desain klasik dan minimalis yang disesuaikan dengan tren perkembangan desain rumah masyarakat kelas atas yang berselera ala Eropa dan Asia modern.. 
 
 
 
 
 Sumber

Wednesday, 22 June 2011

Akio Toyoda, Pekerja Keras yang Kaya Inovasi

Akio Toyoda, Pekerja Keras yang Kaya Inovasi

Akio Toyoda, 52, berpeluang menggantikan Katsuaki Watanabe sebagai Presiden/CEO Toyota Motor Corp.

Akio diharapkan mampu mengatasi keterpurukan Toyota akibat krisis global. Akio diyakini dapat meningkatkan penjualan produk-produk Toyota di dunia. Akio juga diharapkan mampu membawa Toyota mengungguli rival utamanya di pasar mobil Amerika Serikat (AS), General Motors Corp.

Sejak 21 Januari 2005, Akio merupakan salah satu dari lima Wakil Presiden Toyota Motor Corp.Dia bertanggung jawab mengawasi operasional perusahaan tersebut di kawasan Amerika Utara. Akio yang akan bersaing dengan kandidat lainnya, Mitsuo Kinoshita, merupakan cucu dari salah seorang pendiri Toyota pada 1937, Kiichiro Toyoda.

Ayahnya, Shoichiro Toyoda, juga pernah menjabat sebagai Presiden Toyota Motor Corp selama periode 1982-1992. Meski berita pencalonannya santer diperbincangkan, sebagian kalangan masih meragukan kemampuan Akio. Dengan umur 52 tahun, Akio masih dianggap terlalu muda untuk memimpin perusahaan besar menurut standar perusahaan di Jepang.

Namun, Akio yang menjadi “bintang” di perusahaan itu dinilai mempunyai perhatian lebih besar bagi perkembangan Toyota. Jika Akio diangkat sebagai presiden/ CEO,Toyota akan tetap dianggap sebagai perusahaan mobil paling konservatif di Jepang. Pada era 1960-an, kepemimpinan di Toyota didominasi keluarga Kiichiro Toyoda.

Eiji Toyoda, keponakan Kiichiro, juga pernah menduduki jabatan presiden di Toyota pada era tersebut. Akio mendapat gelar MBA dari Babson College di Wellesley, Massachusetts, AS. Akio yang fasih berbahasa Inggris mengawali kariernya di dunia bisnis sebagai konsultan manajemen di New York.

Akio kemudian menghabiskan waktu bertahuntahun untuk mempelajari operasional Toyota.Akio mulai bergabung dengan Toyota pada 1984.Pada 2001 lalu dia terpilih sebagai direktur di Toyota Motor Corp bagian Guangqi Toyota Engine Ltd. Sejak 2003 lalu, dia menduduki posisi sebagai Kepala Operasional Toyota di Asia dan China.

Selama memegang kendali di kawasan Asia dan China, Akio berhasil membawa kemajuan signifikan. Penjualan mobil Toyota di kawasan tersebut meningkat. Peningkatan itu sebanding dengan peningkatan penjualan mobil di AS. Keberhasilan Akio tersebut bukan datang begitu saja.Akio merupakan sosok pekerja keras, ulet,sekaligus inovatif.

Dia juga mengaku sangat total dengan pekerjaannya. “Kalau saya menduduki jabatan tertinggi di perusahaan mobil, saya ingin menjadi ‘pembuatnya’ sendiri sehingga saya tahu bukan sekadar tentang kendaraan, tetapi juga bahan bakunya,” ujar Akio ketika diwawancarai pada Februari lalu.

Suksesi di Toyota terjadi setelah Watanabe disarankan untuk mengundurkan diri sebagai presiden perusahaan tersebut.Watanabe dinilai gagal mengantisipasi penurunan penjualan di tengah krisis finansial global yang bermula dari AS. Penjualan produk Toyota di AS pada bulan lalu anjlok hingga 34%.

Toyota bahkan diperkirakanmembukukanrugi operasional sebesar USD1,7 miliar pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2009. Kalau Akio terpilih, dia tentu akan menghadapi tantangan berat di masa mendatang. Dia harus mampu mendongkrak kembali penjualan Toyota di tengah krisis ekonomi global dan isu perubahan iklim.

Akio dituntut lebih inovatif lagi dalam mengeluarkan produk-produk terbaru yang ramah lingkungan. Pekan lalu,Toyota menegaskan komitmennya untuk bergabung dalam kampanye antiperusakan lingkungan. Perusahaan tersebut sangat berambisi mengembangkan mesin dan kendaraan baru yang ramah lingkungan.

Akio juga diharapkan akan melanjutkan ambisi perusahaan yang ingin mengembangkan mobil hibrida. Toyota telah membangun departemen riset untuk mendukung pengembangan konsep mobil hibrida.






















(economy.okezone.com)

Inilah Pebisnis Terbaik Tahun Ini

Inilah Pebisnis Terbaik Tahun Ini
Perkembangan sektor bisnis global untuk tahun ini terbilang cukup mengalami pertumbuhan yang pesat seiring dengan masih adanya proses pemulihan ekonomi global. Beberapa sosok pebisnis dunia tercatat menjadi sebuah motor bagi sektor bisnis global dan merupakan sosok yang dapat menjadi teladan mengingat adanya inovasi baru yang diciptakannya. Situs bisnis terkemuka, Fortune, pada hari ini (22/11) merilis 50 nama pebisnis terbaik untuk tahun ini. Beberapa tokoh dari survey tersebut akan kami bahas berikut ini :

Bos Netflix, Reed Hastings Pebisnis Terbaik
ntuk urutan pertama dalam survey Forbes ini ditempati oleh Reed Hastings, CEO sekaligus pendiri dari perusahaan produsen video sekaligus rental DVD dan Blue-ray DVD terbesar di AS, Netflix. Kesuksesan pengusaha berumur 50 tahun ini terletak pada strategi bisnis yang dilakukannya dalam menggenjot penjualan produknya hingga mencapai 2 miliar dollar untuk tahun ini. Salah satu strategi yang dilakukan ialah dengan menciptakan line bisnis baru yaitu jasa antar dvd bagi para penyewa yang memberikan keuntungan maksimal bagi para penyewa sehingga tidak perlu kesulitan untuk datang ke counter Netflix. Selain itu, Netflix juga terus untuk menjadi superior dalam sektor bisnis ini dengan semakin memperlengkap koleksi dvdnya. Salah satu strategi dalam menangani hal ini ialah dengan bekerjasama dengan beberapa rumah produksi film seperti Paramount, MGM dan Lionsgate. Beberapa strategi bisnis tersebut merupakan upaya untuk memperkokoh posisi sebagai rental dvd terbesar di AS dibanding pesaing terdekatnya, Blockbuster. Di posisi kedua ditempati oleh CEO Ford Motor, Alan Mulally. Banyak pihak berpendapat bahwa Alan merupakan "dewa penolong" bagi Ford yang tahun lalu sempat dijerat krisis finansial sehingga menimbulkan ekspektasi terjadinya kebangkrutan salah satu produsen otomotif di AS ini. Nilai plus dan strategi yang dimilikinya dalam menyelamatkan Ford ialah dengan memperketat anggaran sehingga tercipta stabilitas finansial selain juga dibutuhkan adanya sikap kepemimpinan dan loyalitas terhadap perusahaan. Kesinambungan dari strategi tersebut dihasilkan oleh adanya prestasi di awal tahun ini dimana Ford meresmikan pabriknya di China dan berikutnya akan menyusul di Argentina dan Brasil.


Untuk posisi ketiga, nama Steve Jobs masih cukup sulit digeser dari percaturan pebisnis terbaik di dunia saat ini. CEO Apple ini dinilai telah memberikan sebuah inovasi bisnis di tahun ini dengan meluncurkan produk unggulan Apple saat ini yaitu iPad dan iPhone 4. Inovasi yang dibawa oleh Apple bahkan menjadi titik awal dari "perang" mini tablet yang saat ini dipimpin oleh iPad. Di posisi keempat ditempati oleh milyarder muda sekaligus CEO Facebook, Mark Zuckerberg. Pemuda berumur 26 tahun ini memang menjadi tokoh yang merupakan bahan pembicaraan di sektor bisnis di tahun ini. Facebook, situs pertemanan yang dibuatnya tercatat telah memiliki 500 juta user dan diprediksi akan semakin berkembang seiring dengan munculnya beberapa inovasi baru yang akan diluncurkan seperti email Facebook, Facebook Places dan beberapa fitur yang menyangkut dalam penggunaan mobil phone. Berkat prestasinya dalam menciptakan Facebook, baru-baru ini telah dirilis film mengenai dirinya yang berjudul Social Network. Setelah Zuckenberg, nama Ellen Kullman bercokol di posisi ke lima dan menjadikan dirinya sebagai satu-satunya pebisnis wanita di urutan 10 besar pebisnis terbaik versi Fortune. Dalam setahun kepemipinannya sebagai CEO DuPont, Ellen Kullman telah memberikan sebuah kontribusi yang signifikan bagi perkembangan bisnis perusahaannya. Untuk dapat meningkatkan performa perusahaannya, ia memberikan perhatian khusus dengan meningkatkan produksi bahan baku tekstil dan juga mencoba melakukan riset terhadap bisnis pembuatan mesin produksi bahan pangan. Sejak dipimpin oleh dirinya, saham DuPont tercatat telah mengalami kenaikan sebesar 41% dalam tahun ini.

Robin Li, Pebisnis Asia Di Urutan 10 Besar

Nama Robin Li dalam survey yang dilakukan oleh Fortune ini berada di posisi keenam. Sebagai CEO Baidu, situs search engine di China, Robin Li dinilai memiliki andil dalam kesuksesan Baidu. Paska ditariknya layanan search engone nomor wahid Google di China setahun lalu yang menjadikan sebuah keuntungan besar bagi search engine lokal untuk mengembangkan bisnisnya. Kini, Baidu tercatat memiliki inventory halaman web sebanyak 740 juta, 80 juta gambar/foto dan 10 juta multimedia file. Bahkan secara diferensiasi layanan, Baidu menawarkan layanan yang berbeda dengan Google dengan adanya akses konten multimedia seperti MP3 dan film.

Selain Rubin Li, pebisnis Asia lainnya yang masuk daftar 50 pebisnis terbaik dunia versi Fortune masih ada nama Wang Chuanfu yang berada di posisi 21, Ratan Tata di posisi 25 dan Li Li di posisi buncit nomor 50. Nama Wang Chanfu dinilai sebagai salah satu pebisnis terbaik di dunia berkat kepemimpinannya sebagai CEO BYD, salah satu produsen batere asal China. Kini selain memiliki perusahaan induk di China, BYD juga telah melebarkan sayap ke AS dengan membangun cabang di Los Angeles. Prestasi lainnya ialah untuk tahun depan BYD akan menjadi produk batere pendukung bagi Daimler. Berikutnya Ratan Tata yang merupakan salah satu dari Chairman dari perusahaan konglomerasi Tata Group.





















Sumber
http://www.vibiznews.com

Wanita Terkaya No 2 Asia Ternyata Masih Muda dan Cantik

Wanita Terkaya No 2 Asia Ternyata Masih Muda dan Cantik
Country Garden Holdings Co, pengembang properti China akhir bulan lalu mengumumkan kenaikan laba bersih 51 persen menjadi US$ 305 juta atau sekitar Rp 2,75 triliun.


Kenaikan laba itu tak lepas dari kenaikan harga dan permintaan properti China dalam dua tahun terakhir. Itu adalah dampak dari paket stimulus besar-besaran hingga US$ 586 miliar yang diberikan oleh pemerintah China menyusul krisis keuangan global pada 2008 lalu.

Kontrak penjualan Country Garden meningkat 32 persen menjadi 23,2 miliar yuan atau Rp 30 triliun tahun lalu. Ini jauh melebihi target tahun lalu sebesar 19 miliar yuan. “Ini tak lepas dari lonjakan penjualan properti hingga 40 persen seluas 4,75 juta meter persegi,” kata perusahaan seperti dikutip Businessweek.

Laju pertumbuhan ekonomi China yang melesat seiring dengan pertumbuhan bisnis Country Garden. Ini menempatkan Country Garden dalam 12 pengembang top di China. Pemilik Country Garden juga merupakan salah satu dari 40 taipan terkaya asal China versi Forbes.


Yang lebih mengejutkan, Country Garden dikontrol oleh wanita muda yang cantik. Namanya, Yang Huiyan, berusia 28 tahun, jebolan Ohio State University, Amerika Serikat.

Sejak pulang dari Amerika, pada 2005, Huiyan yang masih berusia 23 tahun bergabung dengan perusahaan yang dikelola ayahnya, Yeung Kwok Keung. Ayahnya, semula adalah seorang petani, kemudian menjadi pengusaha batu bata hingga membentuk perusahaan real estate pada 1997.

Huiyan adalah anak kedua dari tiga anak perempuan Yeung Kwok. Sejak masih remaja, ia sudah mengikuti aksi ayahnya yang memburu lahan-lahan kosong. Setelah bergabung, ia bukan sekedar menjadi asisten pribadi, melainkan juga mendapatkan pengalihan saham dari ayahnya untuk mewariskan tanggung jawab di pundaknya.

Bahkan, pada 2006, ia mengakumulasi 70 persen saham sehingga menjadi pemegang saham mayoritas atau pengendali Country Garden yang dikenal sebagai grup bisnis properti top di daratan China.

Di bawah komandonya, perusahaan yang berpusat di Guangdong, China ini terus mengembangkan strategi berekspansi ke luar Guangdong. Pada Januari lalu, Country Garden memenangkan penawaran untuk mengakuisisi lahan di pusat kota Wuhan, China.

Di usia yang masih muda, Huiyan kini dinobatkan sebagai wanita kedua terkaya Asia. Beberapa tahun, ia bertengger di jajaran orang kaya Forbes. Menurut catatan Forbes edisi Maret 2010, ia berada di urutan 277 dari 1000 orang terkaya dunia.

Total kekayaan Huiyan mencapai US$ 3,4 miliar atau Rp 30 triliun. Ini meningkat dibandingkan tahun lalu US$ 2,3 miliar kendati masih jauh di bawah hartanya pada 2007 sebesar US$ 16,2 miliar ketika ia menjadi perempuan terkaya di China. Rumahnya juga bukan cuma di kampung leluhur di Shunda, Guangdong, melainkan bertebaran di China, negara Asia lainnya hingga Australia.



















source : http://www.ceklagi.com

Monday, 20 June 2011

Cuplikan Orang Sukses

Semangat dan Kerja Keras, Kunci Utama


Ray Dolby


Sebagai permulaan, kita dapat melihat kiprah sukses Ray Dolby yang merupakan pemilik sekaligus CEO dari perusahaan bisnis sinema Dolby Enterprise, perusahaan yang memfokuskan kepada layanan teknologi peredam suara di teater maupun bioskop seluruh dunia. Konglomerat yang disinyalir memiliki kekayaan sebesar 3,5 miliar dollar ini dimasa remaja sempat menjadi pekerja part time yang bertugas mengantarkan film dan audio dari bioskop ke bioskop di AS. Penunjang kesuksesannya terletak di saat ia melanjutkan kuliahnya di jurusan teknik elektor yang memberikan banyak ilmu terutama mengenai dunia visual dan audio. Dan setelah memperoleh gelar sarjana teknik elektro, ia bersama kawan-kawannya membentuk perusahaan konsultan audio di London yang dinamakan Dolby Laboratories di tahun 1965.


John Anderson




Masih berkaitan dengan dunia sinema, John Anderson yang kini merupakan CEO dari Ace Beverage dulunya sempat menjadi penjaga lapak pop corn di salah satu bioskop di Los Angeles. Terlahir sebagai orang kurang mampu, John kecil harus berusaha mencari uang guan membantu keluarga dan dirinya. Ayahnya bekerja sebagai pemotong rambut. Kini kekayaan John diprediksi sebesar 1,8 miliar dollar.


Oprah Winfrey


Selanjutnya kita melihat kilas balik dari Ratu Talkshow, Oprah Winfrey. Sebelum ia mengalami kesuksesan dalam dunia talkshow melalui acaranya, Oprah Show, ia dinilai cukup mengalami perjuangan yang berat. Pada waktu kecil ia sempat menjadi penjaga toko kelontong di kota kelahirannya, Nashville. Di umur 16 tahun atau pada saat ia SMA, dirinya menjadi penyiar radio lokal, WVOl. Pekerjaan pertamanya di radio tersebut merupakan pekerjaan yang menghasilkan uang dan telah berhasil membantu keuangan keluarganya. Saat ini, Oprah diperkirakan telah memiliki kekayaan senilai 2.4 miliar dollar.


Mark Zuckenberg



Dan bagi Anda pengguna Facebook, mungkin nama Mark Zuckenberg telah akrab bagi Anda. Pemuda berusia 26 tahun ini telah mengejutkan banyak orang dengan melahirkan sebuah situs social network yang fenomenal dan sukses meraup partisipasi jutaan orang didunia. Sebagai CEO, dirinya diprediksi telah memiliki kekayaan senilai 4 miliar dollar. Namun banyak orang belum mengetahui bahwa sebelum ia mendirikan dan membuat situs tersebut ia sempat bekerja sebagai tenaga part time di beberapa perusahaan teknologi guna memperoleh dana penunjang riset bagi terciptanya Facebook.




T. Boone Pickens


Yang terakhir ialah T. Boone Pickens, milyarder yang sat ini menjabat sebagai CEO dari perusahaan finansial, BP Capital Management. Di masa kecil, pengusaha yang diprediksi memiliki kekayaan senilai 1,1 miliar dollar tersebut sempat menjadi loper koran yang mengantarkan koran di pagi hari dengan langganan sebanyak 156 rumah di kota kelahirannya, Oklahoma. Momentum kesuksesannya di tahun 1930 dimana kota kelahirannya menjadi salah satu kota penghasil minyak dan mulailah timbul banyak perusahaan-perusahaan tambang skala besa dan kecil. Fenomena tersebut menguntungkan keluarga Pickens dengan berhasil mengkuliahkan dirinya di Oklahoma State University. Setelah lulus sebagai sarjana jurusan geologi, akhirnya ia melamar pekerjaan di Phillips Petroleum sampai dengan tahun 1954 dan pada akhirnya ia berhasil memiliki perusahaan tambang sendiri yaitu Mesa Ptroleum.