Friday, 20 July 2012

Pinta Oci kepada Presiden SBY

Beberapa siswa di Sekolah Darurat Kartini. Mereka berharap pemerintah memberikan lahan bagi Sekolah Kartini yang akan digusur PT KAI. JIka tidak, aktivitas belajar mengajar akan kembali dilakukan di bawah jembatan tol Lodan Mas, Jakarta Utara.
KOMPAS.com - Rosi, atau biasa dipanggil Oci oleh kawan-kawannya, adalah siswi kelas 1 SMP di Sekolah Darurat Kartini. Sekolah tempatnya menuntut ilmu bersama anak-anak jalanan lain, akan digusur pada 10 September 2012 karena menempati lahan milik PT Kereta Api Indonesia di kawasan Lodan Raya, Jakarta Utara.

Oci sadar, ia dan teman-temannya, serta pendiri Sekolah Kartini, sang guru kembar Rian-Rossy, tak bisa berbuat banyak. Jika penggusuran dilaksanakan, maka kegiatan belajar mengajar akan kembali ke kolong jembatan Tol Lodan Mas, Jakarta Utara. Maka, Oci pun menitipkan pesan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Pak Presiden, tolong jangan robohkan sekolah kami. Kami masih ingin belajar dengan Bu Guru kembar," pinta Rosi, di Jakarta, Kamis (19/7/2012).

Sekolah Kartini, bagi Oci dan kawan-kawannya, bukan sekedar tempat untuk menuntut ilmu, tetapi juga menjadi gudang harapan yang memberikan asa untuk berani bercita-cita. Siswa yang ditampung di Sekolah Kartini merupakan anak-anak dari kelompok marjinal yang selama ini tak diterima di sekolah reguler.

Siswa Sekolah Kartini lainnya, Agam Shafrumaeni, juga menyimpan harapan yang sama. Agam yang bercita-cita ingin menjadi anggota TNI menggantungkan rajutan masa depannya di Sekolah Kartini.

"Anak-anak marjinal seperti ini tidak disediakan sekolah oleh pemerintah. Mereka membutuhkan sekolah khusus di komunitas mereka, karena mereka kan enggak punya akta kelahiran untuk mendaftar di sekolah negeri," ujar Sri Rossyati, salah satu guru kembar pendiri Sekolah Kartini. 

Menurutnya, ada diskriminasi terhadap masyarakat dari golongan bawah untuk mengakses pendidikan. Mereka tidak memiliki akta kelahiran atau pun surat-surat yang menyatakan kelegalan mereka sebagai warga Indonesia.

"Jangankan pendidikan, keberadaan mereka pun tidak diakui," ujar Rossy.

Rossy menambahkan, awalnya lahan PT KAI tersebut disewakan kepada seorang pengusaha sebagai gudang dan lahan parkir. Pengusaha tersebut kemudian meminjamkan Sekolah Kartini sebuah gedung  untuk melakukan proses belajar mengajar tanpa dipungut biaya. Namun, dengan alasan yang belum diketahui secara pasti, lahan di samping rel kereta api tersebut akan digusur.

Rossy dan Rian berharap, pemerintah menyediakan lahan di sekitar komunitas mereka untuk bisa melakukan kegiatan belajar. 

Sementara itu, pengamat pendidikan Lody Paat mengatakan, pendidikan di Indonesia saat ini tak hanya membutuhkan kualitas, tetapi juga keadilan sosial. Anggaran pendidikan yang menyerap APBN hingga 20 persen, dinilai tidak memiliki konsep yang jelas pengalokasiannya untuk pemerataan pendidikan. 

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Sekolah Darurat Kartini mendapatkan surat penggusuran dari PT KAI pada 16 Juli 2012.  PT KAI memerintahkan pengosongan lahan dengan  tenggat waktu hingga 9 September 2012. Penggusuran akan dilakukan pada 10 September 2012.
  




Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Thursday, 19 July 2012

Sekolah Darurat Kartini Terancam Digusur

JAKARTA — Masih ingat Sekolah Darurat Kartini yang didirikan oleh dua ibu kembar Rossa-Rossy? Beberapa tahun lalu, sekolah yang mereka dirikan mendapatkan perhatian. Didirikan sejak tahun 1990, Sekolah Kartini sudah lima kali berpindah tempat. Alasannya, digusur.

Kini, persoalan yang sama kembali dihadapi. Sekolah Kartini yang sekarang berlokasi di kolong jembatan layang Lodan Raya, Jakarta Utara, akan digusur oleh PT Kereta Api Indonesia, pemilik lahan yang ditempati sekolah ini. Batas waktu diberikan hingga 9 September 2012.

"Kami sudah digusur sebanyak lima kali. Tapi kami enggak bisa menyediakan anak-anak untuk sekolah di sekolah negeri. Karena mereka, kan, enggak diterima di masyarakat. Mereka itu tinggalnya di pinggir kali, pinggir jalan, pinggir rel. Jadi enggak bisa bergabung dengan masyarakat umum," ujar Sri Rossyati (63), salah seorang pendiri Sekolah Kartini, saat dijumpai Kompas.com, Kamis (19/7/2012).

Sekolah Kartini menempati sebuah gudang. Di sinilah berlangsung kegiatan belajar mengajar sejak tahun 2006.

Terkait rencana penggusuran, Mateta dari Humas PT KAI Daop I Jakarta, yang dihubungi secara terpisah, mengungkapkan, bangunan yang digunakan Sekolah Kartini berada di wilayah PT KAI. Sesuai aturan, kata Mateta, bangunan apa pun yang berdiri di atas hak orang lain telah menyalahi aturan. Surat pemberitahuan penggusuran sudah dilayangkan pada 2 Juli 2012. Sekolah Kartini diberikan batas waktu hingga 9 September 2012, sebelum penggusuran yang akan dilakukan sehari setelahnya, 10 September 2012.

Untuk anak-anak pinggiran

Rossy mengisahkan, sekolah yang didirikannya memberikan pendampingan kepada anak-anak dari kelompok marjinal. Anak-anak ini, menurut dia, tidak diterima di sekolah reguler. Keterbatasan ekonomi orangtua membuat mereka meninggalkan bangku sekolah karena tak mampu membayar berbagai kebutuhan pendukung belajar meski biaya sekolah digratiskan.

"Kalau untuk keterampilan juga mereka bayar sendiri. Disuruh menari, ya, bayar lagi Rp 50.000, ya enggak bisa. Akhirnya keluar dan putus sekolah," kata Rossy.

Ia meyakini, melalui Sekolah Kartini yang memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak dari keluarga miskin, akan memberikan harapan akan lahirnya generasi menjanjikan. Rossy berharap anak-anak didiknya akan mendapatkan ilmu, menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki keterampilan sehingga mempunyai kepercayaan diri untuk bergabung dengan anak-anak lain yang mengenyam pendidikan lebih baik.

"Kalau saya beli ruko (rumah toko) dan belajar di ruko, anak-anak enggak akan boleh masuk ke ruko itu. Pakaian mereka kan seadanya, belum sampai (ruko) sudah diminta keluar nanti," tambah Rossy.


Sumber : Kompas
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary