Friday, 12 July 2013

Pengantin Bidadari, Kisah Cinta Seorang Syuhada

kisah, kisah islami, kisah cinta, inspirasi cinta, islamic motivation

Pada masa Rasulullah, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat.

Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.

“Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.

Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi.

Sambil tersenyum beliau berkata:
“Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”

“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.

“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.
“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.

Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan
“Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.

“Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.

“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.”

Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”

Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”

Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.
Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”

Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”

Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.

Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.

“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang. Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”

Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”

Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhi…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya.

Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya.

Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya … Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.

Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh.

Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.

Tanpa dimandikan …
Tanpa dikafankan …

Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid.

Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu.

Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau
Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum.

Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.

Akhirnya keadaan kembali seperti semula ..
Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?”

Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo ..
-Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia.Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”

“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.

” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.

“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.

“Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya.”

Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.

Malam menjelang …
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata ..

Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan .. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula ..

Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini pabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.”

Istri Zulebid, terdiam.
Matanya basah …
Ada sesuatu yang menggenang disana ..

Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi ..
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir ..
Ia menggerakkan bibirnya ..
“Suamiku, aku mencintaimu …
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita ..
Aku ikhlas …..”

Dan,..
Akan kemanakah kumbang terbang ..
Pada siapa rindu mendendam ..
Kekasih yang terkasih ..
Pencinta dan yang dicinta ..
Semua berurai air mata ..
Sedih, ataukah bahagia …..?

Wallahu a'lam bishshawab......

Sunday, 16 June 2013

Kisah Cintaku

Kisah Cintaku
 

"Hari ini adalah hari anniversay ku dengan pacar ku. Namanya doni,
yah dia orang yang slama 4 tahun ini telah mengisi hatiku dgan
kegembiraan Doni itu cwok yang baik,pengertian,humoris,
pokoknya smua sifat baik ada ddalam dirinya, kalo aku bilang dya
adlah tipe cwok idaman
aku adlah Nina, aku kuliah di salah satu universitas negeri di kota
ku , sedangkan doni kuliah di yogyakarta, kami bertemu hanya 2
kali dlam seminggu. Menurut ku itu tak apa, soalnya klo ktmu
stiap hari pasti ada rasa bosan.

Dikamar ku di pagi yang sejuk.
"sayang happy anniv yah buat hubungan kita yang 4 tahun, smoga
kita makin langgeng, dan romantic." ucap doni di telfon , yah dia
menelfon ku pagi ini. jarang loh ada cwok yg ngucapin anniv cwok
duluan, dlam hati aku beruntung memilikinya .
"hehe iyah sayangg happy anniv jga but hubungan kita yang 4
thun , kamu kapan yang ke jakarta? aku udah kangen, dan aku
udah nyiapin kado anniv kita " kataku memberi thu dya, aku
memang selalu memberi kado kado kecil untuknya.
"sma sayang aku juga udah nyiapain kado but kamu, tenang yang
aku ke jakarta kemungkinan hari ini sayang" disitu aku sangat
senang sekali krna dya akan dtang mengunjungiku di jakarta.
"bener yang, yaudah kamu berangkat dri jogya jam berapa? Nanti
biar aku jemput yang"
"ini aku mau mandi sayang, klo udh beres aku lngsung berangkat"
ucapnya membalas pertanyaan ku.
"yaudah klo gtu yangg, klo udah berangkat+nyampe bandara
telfon/bbm yah sayang "
"iyah sayang okeh, udah ya yang mau mandi, iloveyou" ucapnya
terburu buru.
"iyah sayang, loveyou too" balasku.


Entah mengapa hati ku tibatiba tidak tenang , ada rasa gelisah
yang tbtb menyelimuti ku, ya tuhan semoga tdak terjadi apa apa
pda diriku, keluarga ku, dan pda kekasih ku ;(.

_____________________________

PING PING PING
suara bbm ku berbunyi, dan itu bbm dri doni, aku read dn dya bru
saja akan terbang. Aku pun mandi dan siapsiap untk pergi ke
bandara menjemput dya. Sampai di bandara aku menunggu di salah
satu restoran yang ada disitu, dan sembari memesan makanan.
Satu jam sudah lewat dan pesawat yang doni tumpangi pun
akhirnya mendarat, aku melihat nya dari kejauhan, doni dgan
terburu buru membawa kopernya dn berjalan ke arah ku.
"sayanggg apa kabar, ? Gmna enak perjalnan nya ? " ucap ku
yang kala itu langsung memeluknya, rasanya aku tdak ingin
melepaskan pelukannya, aku ingin slama nya seperti ini, aku tdak
peduli dengan tatapan aneh dri orang sekeliling kami, aku
mempererat pelukanku berasa aku akan kehilangan dia, tapi
pikiran itu aku singkirkan.

"sayangg udah ah malu tuh di liatin orang orang lagian sakit tau
tdi di peluk nya kenceng bget sma kamu " dya pun protes, dan aku
melepaskan pelukan ku, dn beralih melihat ke wajahnya yang
mulai manja dengan ku. Aku tersenyum dlam hati.
"yaudah yuk pulang, kmu apa aku yang bawa mobil yang?" aku
bertannya pada nya.
"kamu ajah ya yang, badanku sakit grgr kelamaan duduk di
pesawat" ucap nya lanjut.
"yaudah yuk" aku pun membantu nya untk membawa koper nya.

________________________________________

Dimobil, di perjalanan pulang aku bercanda canda dengan nya.
"yang nanti dinner bareng yah, aku bakal siapin masakan
kesukaan kmu" ucapku smbil menyetir.
"hehe iyah sayangg, tapi enak gak tuh masakannya , gak asin
kaya kemaren kemaren kan ?" dya berkata smbil meledek ku.
"ihhh jahattt " aku pun cemberut dan tbtb aku tersadar klo aku
udah janji mau telfon mama klo mobilnya aku pake.
"yangg hape ku mana yakk?" aku pun merogoh saku celana ku
smbil tetap menyetir.
"kamu tdi taro mana sayang?" timpal doni .
" hhhmmm "

Di malam yang sesunyi ini aku sendri tiada yang menemani. Alunan
lagu dri peterpen_kisah cintaku itu mengalun, ternyata hape ku
ada di blkang jok.
"biar aku ajah yang ngambil yang, kmu lagi nyetir" ucap doni.
"udah gpp kok aku aja yg ngambil msih bisa kok" aku tersenyum
padanya.
Dagusapkan tangan ku pda wajah nya dan menghapus airmata dri
wajah yang sudah mulai berkeriput itu.
"ibu jgan nangis lagi yah, aku skr buktinya udah sehat,telah aku
dapat hape ku aku langsung menghadap depan, dan tbtb ada mobil
di depan kami, tnpa sadar mobil ku langsung tertabrak dan
hancur, aku lihat
Saat itu bersma ku kala kecelakaan itu. Ya, doni mana doni, knapa
dya tdak ada disini. Aku menengok ke kiri dan ke kanan , dan aku
pun menatap ibuku.
"bu, doni mana bu ? Doni gak papa kan bu ? Nina pngen ketemu
doni bu, nina pengen ktmu doni bu" aku pun bangun , namun
tubuhku di tahan oleh ibuku.
"tenang nak tenang, sebenarnya doni sudah sudah " ibuku
berhenti dan aku lihat wajahnya menahan tangis.
"doni knapa bu? Jawab" aku semakin lantang bertnya padanya .
"doni sudah meninggal sat dbwa k'rmh sakit nin" ibu ku pun tak
dpat menahan air matanya, dn seketika itu juga butiran butiran
air mata pun jatuh di wajah pucat ku ini.
"meninggal bu? Doni meninggal? Ibu bhong kan ? Gak mungkin bu,
pokoknya nina mau liatt doni sekaranggg buu !!!!" aku langsung
bangkit dri tempat tidur ku, dan berjalan terseok seok menahan
sakit yg masih aku rasakan.

"nak sudah nak sudahh, relakan lah dia nak, ibu mhon kmu jgan
seperti ini" ibu ku mengejarku dan langsung memeluk ku dari
belakang menahan aku untk tdak keluar kamar rawat.
"gk bu aku mau ketemu doni, aku mau ketemu doni, hiks hiks hiks"
aku meronta dan menangis sejadi jadinya, aku terjatuh di
pelukan ibuku dan seketika itu jga bdan ku mulai lemas dn
pingsan.

_________________________________

Aku melihat doni duduk sendri di suatu taman yang entah aku tau
tbtb aku ada dsitu. Aku mengampiri doni dan duduk
disampingnya,dya menatap ku dgan lembut dan Tbtb dya mencium
bibirku dgan lembut,memegang tanganku dgan halus.Tapi gak tau
knapa aku merasa dya semakin jauh,jauh, jauh, aku mengejarnya
nmun takbisa smpai doni menghilang pun aku hanya bisa berteriak
memanggil namanya .

______________________________________

"donii donii donii donii DONI!!!"
"nak bngun nak bangun sayangg, knp kamu?" ibu ku
menggoyangkan badanku dgan pelan agar aku terbangun.
"hosh hosh hosh ibu?" trnyata itu hanya mimpi, donii
"kamu gpp nin? "
"aku gpp kok bu" aku tersnyum pada ibuku

_____________________________________________

2 bulan sudah aku telah kehilangan orang yg aku sayang yaitu
doni, 1 bulan yg lalu aku mencoba untk bunuh diri di jembatan yg
bias menangis rasanya aku ingin berteriak
"hey lepas kan lah beban mu" ucapnya dgan masih menatap lurus
sungai dri kejauahan. "mksud mu?" aku bingung
"ya lepaskan, berteriak lah sekencang kencangnya, biasanya itu
akn mengurangi frustasi seseorang" dya tbtb tersenyum pda ku,
senyuman itu snyuman itu, aku merasakan doni ada di dalam
dirinya, siapa lelaki ini, aku bertnya ddlam hati. Tnpa pikir
panjang aku pun berteriak sekencang kencangnya.

"AAAARRRRRGGGGGHHHHKKK" aku merasa lega mskipun msih ada
yg mengganjal di dalam hatiku.Aku harus merelakan doni, ya aku
harus merelakannya .
"gimana ? Enakan skr?Siapa nama mu?" dya tersnyum dn
mengulurkan tngannya .
"Nina" aku hnya menjwabnya dgan singkat.
"aku Angga, nama mu bagus, sma seperti yg punya " dya tersnyum
kembali, entah mengapa senyum itu mirip skali dgan doni, apa
tuhan telah mengirimkan lelaki untk membuat ku tdak bersedih
lagi? Atw untk menggantikan doni ? Entahlah, yg terpenting aku
percya bhwa tuhan telah merencanakan yang terbaik but ku ****
Yap , lelaki itu adalah Angga, kalian taw dya spa ku skrang?
Skrang dia telah resmi menjadi suami ku, setelah selama 3 bulan
mencoba melamarku dn pada akhirnya pun aku luluh di buatnya ,
aku menerima lamarannya dan menikah degannya, aku berkata da

Kisah Cintaku
lam
hati, tuhan terima kasih tuhan kau telah mengirimkan jodoh
sebenarnya untuk ku, semoga dya terbaik buat aku. Itulah kisah
cintaku yang terisi kan oleh rasa sedih dan gembira, aku belajar
arti mencintai, aku belajar arti ditinggal kan, dan aku akan slalu
mencintai Angga yg telah menjadi imam dalam hidupku saat ini.

selesaii....

Sunday, 28 April 2013

Kisah Cinta Romantis Ali dan Fatimah


islamic motivation, cinta, kisah islami, motivasi cinta, Kisah Cinta Romantis Ali dan Fatimah

Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn 'Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka'bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu

"Allah mengujiku rupanya", begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti 'Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara 'Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; 'Utsman, 'Abdurrahman ibn 'Auf, Thalhah, Zubair, Sa'd ibn Abi Waqqash, Mush'ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti 'Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, 'Abdullah ibn Mas'ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan 'Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

'Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. "Inilah persaudaraan dan cinta", gumam 'Ali.

"Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku."

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

'Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. 'Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah 'Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya 'Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, 'Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, "Aku datang bersama Abu Bakar dan 'Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan 'Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan 'Umar.."

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana 'Umar melakukannya. 'Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

'Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka'bah. "Wahai Quraisy", katanya. "Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang 'Umar di balik bukit ini!" 'Umar adalah lelaki pemberani. 'Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. 'Umar jauh lebih layak. Dan 'Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau mempersilakan
Yang ini pengorbanan

Maka 'Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran 'Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti 'Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi'kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya 'Abdurrahman ibn 'Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa'd ibn Mu'adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn 'Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

"Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?", kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. "Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. "

"Aku?", tanyanya tak yakin.

"Ya. Engkau wahai saudaraku!"

"Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?"

"Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!"

'Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

"Engkau pemuda sejati wahai 'Ali!", begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, "Ahlan wa sahlan!" Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

"Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?"

"Entahlah.."

"Apa maksudmu?"

"Menurut kalian apakah 'Ahlan wa Sahlan' berarti sebuah jawaban!"

"Dasar tolol! Tolol!", kata mereka,

"Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !"

Dan 'Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, 'Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

'Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, "Laa fatan illa 'Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!" Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti 'Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada 'Ali, "Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda"

'Ali terkejut dan berkata, "kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?"

Sambil tersenyum Fathimah berkata, "Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu" ini merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan mereka berdua.

Kemudian Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut."

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

"Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak." (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)


Kisah Romantis ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul "Mencintai sejantan 'Ali"