Thursday, 3 October 2013

Cerpen Kekasih Untuk Sahabatku ~ 02

Hari yang sangat membosankan.Membiarkan diriku hanya berdiam diri di rumah.Akupun memutuskan keluar dengan mengajak Dhea ke toko buku.

Aku menelusuri setiap nuku yang tertata di rak rak buku kumpulan novel.Aku mencari novel ketiga dari trilogi “negeri 5 Menara” yang baru saja diterbitkan beberapa minggu lalu.

“Jujurlah sayang,aku tak mengapa, biar semua jelas tak berbeda..” , Tiba tiba aku mendengar sepenggal lirik lagu milik band Repvblik.Ternyata itu nada telepon dari ponselnya Dhea.

“Bentar ya, aku jawab telfon dulu.” Ucap Dhea dan menjauh dariku.

Setahuku Dhea memang sangat menyukai lagu Repvblik itu, sampai sampai dia menggunakannnya sebagai nada dering.


Kekasih untuk sahabatku

“Ngapain sih telfon!” Dhea berbisik. Seperti takut jika aku mendengar pembicaraannya.

kamu Dimana?” , Tanya suara itu.

“aku lagi di toko buku sama pacar kamu.”

“yaudah,aku kesana sekarang ya” ucap suara itu lagi.

Belum sempat Dhea menjawab, Rama telah menutup panggilannya.

“Telfon dari siapa, Dhe?” , Tanyaku menghampirinya.

“Eng…enggak dari siapa siapa” Jawabnya segera memasukkan ponselnya ke dalam tas. “itu tadi temen, katanmya ntar sore mau maen ke rumah” ucapnya terlihat gugup, seperti ada yang ia sembunyikan.

Aku sengaja mengajak Dhea ke toko buku bukan hanya umtuk mememaniku membeli buku,tetapi aku juga ingin mengutarakan masalahku tentang pertengkaranku dengan Rama.

Baru sekitar 15 menitan kami mengobrol, Tiba tiba Rama datang menghampri kami.

“Fira,Dhea, kebetulan kita betemu disini.” Katanya

Aku rasa ini bukan sebuah kebetulan, sepertinya Rama telah mengetahui jika hari ini aku berada di toko buku bersama Dhea.

Aku mendapati banyak keganjilan, tadi ketika Dhea nampak gugup ketika aku bertanya siapa orang yang menelfonnya.Dan tiba tiba Rama datang menemuiku dan Dhea di toko buku,padahal setahuku dia jarang sekali pergi ke toko buku. Kecuali jika aku yang mengajaknya. Kulihat juga raut wajah Dhea yang terlihat kaget ketika Rama datang menemui kami.

Aku meminta izin kepada Rama dan Dhea untuk kembali memilih milih buku dan membiarkan mereka berdua duduk di tempat baca buku yang disewakan.Aku bukan ingin memilih buku, hanya saja ingin mencari tau sebenarnya ada hubungan apa antara Rama dan Dhea.

“Ngapain sih pake kesini segala” Ucap Dhea dengan raut mukanya yang kesal.
“kamu jangan marah gitu dong. Aku tuh Cuma kangen aja sama kamu” Ucap Rama dengan mudahnya mengatakn kangen kepada perempuan lain
“Tadi Fira bilang sama aku,katanya sekarang kamu jarang perhatiin dia”

“Iya, aku capek.Fira tu kerjaannya ngomel ngomel mulu. Daripada ngedengerin omelannya yang nggak jelas itu, mending berduaan sama kamu kayak gini,Dhe” Kata Rama memegang tangan Dhea

Di bali deretan rak rak buku, aku tak mendengar percakapan merka, tetapi aku melihat dengan jelas ketika lelaki yang masih berstatus sebagai pacar aku berpegangan tangan dengan perempuan lain , dan itu adalah sahabatku sendiri.

Pertengkaran yang selama ini terjadi antara aku dan Rama adalah karena sejak beberapa bulan yang lalu aku telah mencurigai kedekatan Rama dan Dhea.Tetapi Rama selalu meyakinkanku, jika dia hanya mencintaiku dan selalu mengatakn bahwa Dhea tak mungkin mencintainya. Hal itu yang selalu membuatku menghilangkam kecurigaanku terhadap Dhea. Teapi melihat kejadian barusan, kecurigaan itu kembali menghantuiku.

“Dhea memang sahabatmu, sama sepertiku.Tapi apa yang tidak mungkin di dunia ini, meskipun itu sahabatmu sendiri. Mendingan kamu Tanya langsung aja kepada keduanya. Agar kamu mendapatkan kepastian yang jelas” kata Airin memberi saran kepadaku.

Airin ada benarnya juga. Lebih baik aku menanyakan hal ini kepada Rama dan Dhea secara langsung.

Aku merencanakn sesuatu.Mengajak Rama dan juga Dhea menemuiku di sebuah taman.Dengan sedikit berbasa basi, sebelum akhirnya aku mengutarakn sebuah pertanyaan kepada Dhea.

“mungkin tak semestinya aku menaynyakan hal ini. Mungkin juga akan menyinggung perasaanmu jika jawaban dari pertanyaanku ini tidak seperti yang aku fikirkan.Aku menanyakannya padamu, hanya untuk meinta kepastian. Dan aku harap kau akan menjawab dengan sejujur jujurnya.”

“Insya Allah,Fir. Aku akan menjawabnya dengan jujur” Dhea menatapku serius.

“Dhea, sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Rama, dan ada hubungan apa diantara kalian?’

Dhea terdiam sejenak, mungkin sedikit kaget dengan pertanyaanku. Aku menunggu jawaban darinya, apapun jawaban itu, akan aku dengarkan.

“maafkan aku, Fira. Aku mencintai Rama. Tapi sungguh, tak ada hubungan lebih diantara kami kecuali teman. Aku tau kamu pasti sakit mendengarnya.Namun inilah kenyataannya, aku mencintai kekasihmu.”

Seperti tertusuk ribuan jarum yang menembus dadaku ketika aku mendengar jawaban dari Dhea. Jawaban yang amat sangat jujur bagiku.Ternyata, dugaanku selama ini benar, Dhea mencintai Rama, kekasihku. Aku menghela nafas, mencoba menguatkan hatiku, karena aku harus menemui Rama. Aku meminta Dhea untuk menungguku, sebelum akhirnya aku menemui Rama yang tak cukup jauh dari tempatku bertemu dengan Dhea.

“Maaf,jika telah membuatmu menunggu” Ucapku yang kini telah berdiri di belakang Rama.

“Fira” katanya berbalik arah mengahadapku. “tak apa, aku belum lama menunggumu. Ada apa kau memintaku untuk datang kesini?”

“Jika aku bertanya padamu, apakah kau akan menjawabnya dengan jujur?” Aku menatap matanya dengan serius.

“Pasti, aku akan menjawabnya dengan jujur” Ujarnya dengan mantap.

“baiklah. Pertikaian yang terjadi diantara kita selama ini adalah karena aku menaruh kecurigaan terhadapmu. Siapa yang sebenarnya ada di dalam hatimu, aku… atau Dhea?

“Apa maksdumu bertanya seperti itu padaku ?”

“Aku mengetahui semuanya.Aku memintamu untuk menjawab pertanyaanku, bukan untuk bertanya apa maksudku menanyakan hal ini.

Suasana berubah menjadi hening. Hanya terdengar suara angina yang berlalu.Lelaki yang berdiri di hadapanku ini masih tertunduk. Mungkin mencari jawaban dari pertanyaanku ini.Menunggunya menjawab pertanyaan yang telah aku lontarkan, seperti aku merasakan waktu telah berhenti berputar.

“Maafkan aku, Fira.Aku memilih Dhea “ Rama memegang kedua tanganku dan menciumnya. Meneteskan sebutir kristal suci di punggung tangan kananku.

Satu tetes, dua tetes air mata mengalir di pipiku.Tak menyangka jika Rama akan mengatakan hal sepahit ini di hadapanku. Aku juga tak mengerti, jika dia memilih Dhea, apa maksud airmatanya yang jatuh di punggung tangan kananku ini.

Tangannya yang semula menggengam tanganku, kuubah menjadi aku yang mengenggam tangannya dan menariknya mengampiri Dhea yang masih menungguku.

“mengapa kalian tidak jujur dari awal? Mengapa harus menunggu aku yang bertanya terlebih dahulu kepada kalian? Mengapa menyembunyikan perasaan kalian di belakangku? Rama, aku tak tau kesalahan apa yang telah aku perbuat sehingga kau meninggalkanku dengan cara seperti ini. Mencintai sahabatku sendiri. Dan kamu Dhea, mengapa menutupi kebusukanmu dengan memeperlihatkan semua kebaikanmu terhadapku. Sahabat macam apa yang tega menusuk sahabatnya sendiri. Mencintai orang yang telah dimiliki sahabatnya. Kalian kemanakan akal dan pikiran kalian? Memang hubungan kalian tak lebih dari sebatas teman, tapi perasaan saling suka yang terdapat pada diri kalian membuat kalian menciptakan kemesraan di belakangku, yang tak pernah aku ketahui sampai detik ini.”

Aku tak mampu membendung air mata ini dan berlari sejauh mungkin dari hadapan mereka berdua yang telah mengkhianatiku.

“Maafkan aku,Fir. Aku memang memilih Dhea. Namun mengapa aku juga merasa begitu kehilanganmu , Fira” Ujar rama dalam hatinya, yang masih melirik ke arahku yang berlari semakin menjauh dari tempatnya dan Dhea berdiri.

Suda 1 bulan aku tak pernah bertemu dengan Rama maupun Dhea. Bahkan aku sempat mengurung diri beberapa hari di kamar karena frustasi berat. Aku benar benar belum bisa menerima kenyataan ini. Berkali kali Rama datang ke rumahku,tapi aku tak pernah menemuinya. Berkali kali pula dia mengajakku bertemu di luar. Tapi aku selalu mengabaikannya.

“Bukan maksud menduakanmu..aku tak ingin mendustai hati..aku juga mencintaimu..ku menjauh hanya unutk berfikir….” Lirik lagu “Robinhood” itu telah berulang ulang kali berbunyi. aku sama sekali tak menghiraukannya. Namun terus menerus mendengarnya juga membuatku kesal, akhirnya aku ambil juga ponsel yang telah berulang kali menerima panggilan masuk itu. Jika sebelumnya aku membiarkan atau merejectnya, kali ini aku menjawabnya. Suara Rama di seberang sana terus membujukku, mengajakku bertemu. Aku pun terpaksa menuruti permintaannya kali ini.

“Aku bingung sama kamu, sudah memilih Dhea tetapi masih saja mencariku. Apa maumu? Apakah kamu belim puas menyakitiku?” Kataku menggerutu di depan Rama.

“Fira , aku Cuma kangen sama kamu.” Rama memegang tanganku, wajahnya tak terlihat salah menyebut kata “kangen” di depanku.

“Ngapain kangen sama aku” jawabku ketus dan melepaskan tanganku dari pegangannya.

“Cinta, kamu ingat nggak malam perpisahan itu.Ketika aku mengajakmu bertemu di tempat ini, namun Tuhan tak mempertemukan kita. Saat itu aku ingin memberikan buku ini kepadamu. Kamu pernah bilang bahwa kamu sangat menginginkan buku ini. Aku sengaja membelikannnya untukmu” , Rama menyodorkan buku bersampul hijau itu di hadapanku.

Aku melirik buku itu.ya, aku dulu memang sangat ingin memilikinya. Buku karya Keiko Nagita yang dialih bahasakan oleh Vita Erniyati ini berjudul “Fuko and The Ghosts - Ghost Train”. Buku ini mengisahkan seorang gadis bernama Fuko yang setia kepada kekasih hantunya yang bernama Kazuo. Meski kini Kazuo telah meninggal dan menjadi hantu, Fuko tetap mencintainya. Dia tak peduli jika berhubungan dengan makhluk berbeda alam itu sangat

berbahaya.Fuko tetap berpegang teguh pada kesetiannya mencintai Kazuo.Aku sangat salut pada Fuko. Namun aku dan Rama tak seperti Fuko dan Kazuo.Kami tak mampu menjaga kesetiaaan. Semua karena rama.Dia yang yang berpaling pergi meninggalkanku.

“Aku sudah membacanya, sebaiknya kau berikan saja pada Dhea” Ucapku menyodorkan bukuitu kembali kepada Rama.

“Tapi…..” “maaf, sepertinya aku harus pergi” ucapku yang memotong perkataan Rama dan segera beranjak dari tempat duduk , mengabaikan panggilan Rama.

Biodata penulis :
Judul cerpen : Kekasih untuk Sahabatku
Penulis : ihda mufida
Email : ihdamufida31@gmail.com

Tuesday, 24 September 2013

Cerpen Kekasih Untuk Sahabatku ~ 01

Kekasih Untuk Sahabatku _ Cerpen kali ini kiriman dari ihda mufida, yang tentu saja masih merupakan reader di blog ini.

Untuk lanjutan cerbung Cintaku bersemi di desa belum bisa di post part endingnya karena aku belum punya waktu buat ngedit. Jadi kita tampilkan dulu karya ihda mufida, yang emang nggak perlu ku edit lagi. So saran buat yang masih berniat untuk mengirim cerpennya kesini, langsung di atur EYD nya. Jadi nggak kelamaan di draf,

Baiklah, kebanyakan bacod sepertinya?. Yuks mending kita simak bareng - bareng. Cekidots....


Kekasih Untuk Sahabatku

Aku menyandarkan kepalaku di bahu lelaki yang duduk di sampingku ini. Melepas lelah setelah seharian mengelilingi Kota Surabaya.

Pikiranku melayang ke masa 1 tahun yang lalu. Saat itu aku sedang duduk di halte sambil membaca buku, menunggu bus yang akan membawaku pulang ke rumah.Belum lama aku duduk, datang seorang lelaki yang memakai seragam sama denganku.Dia duduk di sebelahku.Aku baru menghabiskan 2 lembar dari buku yang aku baca. Tiba tiba lelaki di sebelahku itu menepuk bahuku. Dia melempar senyum kepadaku,mengajakku berkenalan.Kami mengobrol kesana kemari.Ternyata dia satu angkatan denganku,hanya saja kami berbeda kelas.Sudah 2 tahun aku menuntut ilmu di SMA Cenderawasih, tetapi sepertinya baru hari ini aku mendapati lelaki ini di sekolahku.

“Rama, nggak terasa ya,sebentar lagi kita akan berpisah.Apakah kelak kau akan lupa denganku?” , Kataku yang baru saja tersadar dari lamunan masa laluku.

“Fira sayang,tak mungkin aku melupakanmu,aku masih mencintaimu” , Ujarnya sembari merangkul tubuhku.

“Cinta,coba kamu lihat keluar sana.Hari ini langitnya mendung ya,kamu tau nggak kenapa?” , Katanya lagi dan menunjuk ke luar ruangan.

“Enggak,emang kenapa?”

“Karena langit bersedih jika melihat kita berpisah.Hehehe ”

Dia mulai lagi dengan gombalan gombalannya yang selalu membutaku semakin jatuh hati padanya.Lelaki yang aku temui di halte satu tahun yang lalu itu bernama Rama.Dan Rama itu adalah lelaki yang sekarang duduk di sebelahku,dia adalah kekasihku.

Hari ini, Rama bersama Arya pergi ke kantin, teman sekelasnya.Saat membawa sebuah nampan yang berisi 2 gelas minuman,tak sengaja Rama menabrak seorang perempuan.

“Aduh,maaf” , Ucap Rama dan segera menaruh nampan yang dibawanya di atas meja.

“Gak apa apa,aku juga yang salah.Jalan gak lihat lihat.” , Perempuan itu sibuk mengelapi seragamnya yang basah dengan tisu.

Dalam sekejap, mereka berkenalan. Ternyata perempuan itu adalah Dhea. Dia adalah teman sekelasku. Bisa dibilang aku dan Dhea cukup dekat, karena kami sering mengobrol dan sesekali bertukar masalah satu sama lain.

Semenjak Rama mengenal Dhea, kami lebih sering ngobrol bertiga.Aku pun juga menjadi lebih sering menceritakan tentang Rama kepada Dhea.

“Fir. Kok kayaknya temen kamu yang namanya Dhea itu makin deket aja sama Rama,kamu nggak curiga?” Kata Airin, kawan dekatku sejak di SMP.

“Ah,kamu ini bicara apa.Mana mungkin mereka ada apa apa.Dhea kan temen aku” , Ucapku membela Dhea.

Memang terkadang, aku merasa cemburu ketika melihat Rama dan juga Dhea Nampak semakin akrab.Dan sesekali aku merasakan ketidaknyamanan jika Dhea terlalu sering mengikutku saat sedang pergi bersama Rama. Namun aku berusaha menghilangkan kecemburuanku,karena aku tidak mau berfikiran negatif terhadap sahabatku sendiri.

Setelah dipusingkan dengan ujian akhir beberapa waktu lalu,kini aku kembali dipusingkan lagi dengan beberapa tes untuk masuk ke perguruan tinggi. Setelah melewati beberapa tahap, akhirnya aku dinyatakan diterima.

Aku sangat gembira, karena akhirnya mimpiku terwujud. Aku diterima di salah satu perguruan tinggi di Jogja. Semua berkat Rama,karena selama ini dia yang selalu mengajariku jika ada mata pelajaran yang aku tak mengerti.Kegembiraan tak hanya berpihak kepadaku,tetapi juga terhadap Rama,dia juga diterima di pergurun tinggi di Bandung.aku tau,memang sejak dulu dia menginginkan bersekolah disana.

Aku yang masih sangat ingin bersama sama dengan Rama, atau memang waktu yang berjalan begitu cepat.Entahlah. Aku tak tau. Yang aku ketahui saat ini, ujian akhir telah usai,dan esok adalah hari perpisahan sekolah.

Malam sebelum hari perpisahan tiba, Rama sengaja mempersiapkan surprise untukku.Dia berharap, aku akan senang menerima pemberiannya.

“Cinta, datang ke taman ya malam ini” , Isi pesan yang dikirim oleh Rama ke ponselku.

Tanpa basa basi, ia segera mengambil sepeda motornya dan bergegas menuju tempat yang telah ia persiapkan.

Sesampainya disana, dia dapati aku tak membalas pesannya.Rama mengirim pesan kepadaku berulang kali, sesekali dia memiscallku. Namun sama sekali tak ada respon dariku.

Mataku terpejam di atas kasur dengan sebuah novel tergeletak di sampingku, dan sebuah ponsel yang layarnya mulai buram berada di genggaman tangan kiriku.Berulang kali layar itu berkedip kedip, tanda ada pesan dan panggilan masuk.Namun aku sama sekali tak menyadari karena ponselku aku silent dan aku telah tertidur pulas.

Sedangkan seorang lelaki dengan jumper berwarna hijau muda yang melindungi tubuhnya dari dinginnya malam sedang menungguku di sebuah kursi panjang berwarna putih, dibawah gemerlapnyua lampu yang mengelilingi taman.

“Cinta, kamu kemana? Aku rindu sama kamu. Aku pengen ketemu kamu malam ini. Aku yakin, kamu pasti datang. Kamu gak akan ninggalin aku sendiri disini. Datanglah cintaku. Aku sayang sama kamu,d an aku tau, kau juga sangat menyayangiku,” Ucap Rama yang masih memegang kotak kado yang telah terbungkus oleh sebuah kertas berwarna biru tua.

Waktu menunjukkan pukul 10 malam.Hampir 3 jam Rama menungguku. Belum juga ada balasan dariku. Akhirnya,dengan raut muka yang amat sangat kecewa,dia memutuskan untuk pulang. Pulang dengan tangan hampa.

Aku tertidur sebelum pesan dari Rama masuk ke ponselku. Jadi aku sama sekali tak mengetahui jika malam itu dia memintaku untuk menemuinya. Aku baru menegtahui semua pesan Rama ketika aku terbangun di pagi hari. Aku sangat menyesal dan merasa bersalah.

“Aku minta maaf sayang.aku semalam tertidur sebelum kamu berkirim pesan kepadaku.maafkan aku.” Ucapku ketika menemuinya di sekolah sebelum acara perpisahan dimulai.

“Tak apa Cinta, sudahlah, malam itu sudah berlalu” Dia tak marah padaku,tapi kulihat wajahnya, dia nampak sangat kecewa padaku.

Bebrapa hari ini, aku sering bertengkar dengan Rama. Hanya karena sebuah permasalahan kecil.Mungkin aku yang terlalu sensitif.Tetapi aku merasa dia tak menaruh perhatian lagi kepadaku. Apakah hanya karena malam sebelum perpisahan itu aku tak bisa menemuinya,sehingga membuatnya perlahan menjauh dariku?

Rama pergi ke bioskop, kali ini tak bersamaku. Mungkin dia ingin mendinginkan kepalanya karena pertengkaran kami yang tak kunjung usai. Sebuah tiket untuk menonton film buatan Amerika yang berjudul “Star Trek Into Darkness” yang baru saja dilincurklan beberapa hari yang lalu itu telah berada di genggaman Rama.

Rama segera mengambil tempat duduk di barisan depan,di sebelah kiri seorang perempuan yang mengenakan kaos berwarna merah kecoklatan. Ternyata perempuan itu adalah Dhea. Akhirnya pun mereka nonton bareng.
Tak ada aku, Dhea pun jadi. Mungkin begitu ujar Rama dalam hatinya.Sehabis nonton, mereka jalan seharian tanpa sepengetahuanku.

“Rama, makasih ya sudah mengajakku jalan jalan hari ini.”

Dhea nampaknya sangat gembira dan menikamati kebersamaannya dengan Rama.bahkan dia tak menghiraukan lagi jika lelaki yang sekarang bersamanya adalah kekasih sahabatbnya sendiri.

Aku menengok ke luar jendela.Langit mulai gelap. Namun belum juga kudapati pesan masuk dari Rama. Fikiran negatif mulai muncul satu persatu dari kepalaku. Kebiasaannnya meninggalkanku tanpa pamit ketika kami sedang betengkar.

Aku merasa dia benar benar telah berubah.sikapnya dingin,tak memperhatikanku lagi.Dan kini,dia lebih sering menolak ketika aku mengajaknya untuk bertemu.Dia selalu punya seribu alasan untuk menolak ajakanku.

Apa gerangan yang membuat dia berubah. Apakah telah ada perempuan lain di hatinya. Jika ia,siapakah perempuan itu?

To be continue

Komentar Admin : Perasaan aku aja atau emang ini kisah nyata. Jujur aja, sekilas aku ngerasa ini lebih kepada curhatan dari pada cerpen. Baik melalui pengambaran ataupun kosa kata yang di pakai. Just that…

Biodata penulis :
Judul cerpen : Kekasih untuk Sahabatku
Penulis : ihda mufida
Email : ihdamufida31@gmail.com