Friday, 30 August 2013

KISAH KEBAJIKAN YAN ZI DE GU SHI (4 TAMAT)


Mengapa Yan Zi menolak hadiah dari raja?

Raja Qi Jing mengutus Yan Zi untuk mengatur wilayah Donge. Tak disangka, tiga tahun kemudian nama Yan Zi banyak dipergunjingkan orang diseluruh kerajaan.

Ketika Raja Qi mendengar reputasi miring mengenai Yan Zi, dia sangat tidak suka. Kemudian dia memangil Yan Zi ke istana dan menegurnya, “Saya mengira Anda sungguh cakap, dan seharusnya tidak ada masalah saat mengatur Donge. Itulah sebabnya mengapa saya mengutus Anda. Sekarang saya mendengar Donge sangat kacau. Anda pulang ke rumah dan pikirkan masalah ini. Saya akan memberi hukuman berat pada Anda.” Raja Qi hendak memecat Yan Zi.

Yan Zi menyadari dia telah mengecewakan hati raja, namun dia tidak mengatakan sebuah alasan pun, hanya meminta maaf. “Saya tahu kesalahan saya, Yang Mulia. Mohon berikan saya satu kali lagi kesempatan. Tiga tahun dari sekarang, reputasi bagus saya akan menyebar ke seluruh negeri. Jika saya gagal, saya akan membayarnya dengan nyawa saya.”

Ketika Raja Qi mendengarnya, ia merasa tidak ada salahnya memberikan Yan Zi satu kali kesempatan. Akhirnya, Yan Zi kembali ke Donge.

Tiga tahun kemudian, seperti yang diperkirakan Yan Zi, semua orang memujinya. Ketika Yan Zi menghadap raja dengan membawa setumpuk upeti, Raja Qi sangat bergembira. Secara pribadi dia menyambut dan mengucapkan selamat pada Yan Zi atas keberhasilannya.

Raja Qi memuji kecakapan Yan Zi. Ketika Raja Qi ingin memberikan hadiah padanya, Yan Zi menolak dengan halus.

Raja Qi sangat terkejut dan bertanya alasannya. Yan Zi berkata, “Tiga tahun pertama saya bertugas di Donge, saya memperluas perdagangan dan membangun jalan. Saya sangat ketat mematuhi aturan dan memerangi pencurian, sehingga para penjahat tidak menyukai saya. Saya bekerja keras dan hidup hemat, sehingga orang-orang malas tidak menyukai saya. Saya cukup adil melihat masalah sehingga banyak bangsawan tidak menyukainya, begitu juga para orang kaya dan penguasa. Saya tidak mencoba menyenangkan hati setiap orang yang ada disekitar saya, sehingga membuat orang-orang ini juga tidak menyukai saya. Ketika saya bertransaksi dengan pejabat tinggi, saya mengikuti aturan yang berlaku, sehingga banyak pejabat yang tidak menyukai saya.”

“Sebagai hasilnya, para penjahat, orang malas dan bangsawan tidak menyukai saya. Mereka merusak reputasi saya diluar istana. Orang-orang yang bekerja dengan saya, juga para penguasa, merusak reputasi saya di istana. Jadi, setelah tiga tahun saya menjadi sangat terkenal dengan reputasi buruk di dalam istana, dan bahkan Yang Mulia telah mengetahuinya. Oleh karena itu saya mengubah cara lama saya.”

“Saya lebih berhati-hati mengaturnya. Saya tidak lagi membangun jalan dan mendorong perdagangan. Saya tidak lagi memberikan penghargaan kepada orang atas usaha keras dan hidup sederhananya. Saya berhenti menghukum pencuri ataupun pelaku kesalahan. Ketika melihat permasalahan, saya menghormati pendapat penguasa dan orang kaya. Kemudian para penjahat, pencuri dan bangsawan semuanya gembira, mereka memuji saya. Orang yang bekerja dengan saya pun juga gembira karena saya mengabulkan keinginan mereka dan menerima suap. Saya memungut pajak lebih banyak dan menyanjung orang-orang di sekitar Anda.”

“Sekarang setiap orang memuji prestasi saya.”
“Dulu, saya berusaha semaksimal mungkin membantu orang miskin, sehingga tidak satu pun yang kelaparan. Sekarang, orang berkuasa di Donge memiliki banyak simpanan, dan lebih banyak rakyat kecil kelaparan. Apa yang saya lakukan pada tiga tahun pertama lah yang seharusnya di beri penghargaan, akan tetapi Yang Mulia malah tidak berkenan dan ingin menjatuhkan hukuman berat pada saya. Sekarang saya telah berbuat kejahatan pada negara ini, namun Yang Mulia malah menerimanya secara khusus dan memujinya. Saya hanya terlalu lambat untuk menyadari seluruh masalah ini. Saya ingin meninggalkan posisi saya dan membiarkan seseorang yang lebih berbakat menjabatnya. Jadi bagaimana bisa saya menerima hadiah dari Yang Mulia!”
Kemudian Yan Zi dengan hormat berpamitan pada raja, dan bersiap-siap untuk pergi.

Raja Qi tersadar dan segera berdiri, “Tolong Anda lakukan yang terbaik untuk Donge. Itu hak Anda. Saya tidak akan pernah ikut campur tangan lagi.”

Raja Qi kemudian menyadari bagaimana bijaknya Yan Zi, dan kemudian mengangkatnya sebagai perdana menteri.

RENUNGAN :
Disini dapat kita lihat ketika Yan Zi melakukan pekerjaannya dengan baik dia malah ditegur. Yan Zi berada dalam masalah besar, namun dia tidak mengemukakan satu alasan pun. Dia hanya dengan tenang mundur dan mengakui kesalahannya. Kemudian dia berbalik dan menggunakan metode yang berbeda untuk memecahkan kesalah pahaman dan membantu raja memahami dari perspektif lain.

Penolakan Yan Zi untuk mengikuti arus dan ketulusannya dalam melayani sangat menggerakkan hati orang. Kebijakannya, bakat kecakapannya serta kesetiaannya sungguh mengagumkan!

KISAH KEBAJIKAN YAN ZI DE GU SHI (3)


Sepatu yang murah dan Yong yang mahal

Ketika Raja Qi memerintah kerajaan, banyak terjadi praktik hukuman kejam. Untuk satu kejahatan kecil, seseorang dapat kehilangan kakinya. Yan Zi berusaha berkali-kali memohon kepada raja untuk menghapus cara brutal ini, namun tidak berhasil.

Suatu hari Raja Qi ingin menunjukkan perhatiannya terhadap tempat tinggal Yan Zi. Dia merasa bahwa rumah Yan Zi terlalu kecil dan bising, ia ingin memberikan Yan Zi tempat tinggal yang lebih besar.

Namun Yan Zi dengan sopan menolaknya, “Saya terikat dengan tempat ini, karena leluhur saya tinggal di sini sebelumnya. Kedua, rumah ini berada di dekat pasar, saya dapat dengan mudah memantau jalannya perdagangan. Selain itu, sangat mudah untuk membeli sesuatu.” Raja memuji Yan Zi dan bertanya, “Apakah Anda tahu barang apa yang murah dan apa yang mahal di pasar saat ini?”

Yan Zi menangkap sebuah peluang dan berkata, “Tentu saja, saya tahu. Harga sepatu orang normal sangat murah, dan harga Yong, sepatu untuk orang yang berkaki tunggal, sangat mahal.”

Raja Qi tidak memahami jawaban Yan Zi, “Mengapa begitu?”
“Karena begitu banyak orang yang melakukan kejahatan pada berbagai tingkat kejahatan, semuanya berakhir dengan kehilangan satu kaki, sepatu yang normal tidak lagi berharga bagi mereka. Yong lebih bermanfaat.”

Setelah mendengar itu, Raja Qi merasa sangat tidak nyaman dan kemudian memperingan hukuman.

Memutilasi seorang kriminal

Suatu ketika seseorang melakukan kesalahan terhadap Raja Qi, sehingga membuatnya jadi sangat murka dan memerintahkan pelanggar itu untuk diikat dan dimutilasi. Raja Qi bahkan mengumumkan siapa pun yang berani mencegahnya juga akan dibunuh.

Yan Zi datang ke tempat kejadian dan menjambak rambut pesakitan itu dengan satu tangan, dan tangan satunya lagi memegang sebilah pisau. Yan Zi mengenal baik bahwa leluhur kaisar pendiri kerajaan tidak pernah menggunakan cara keji untuk menghukum orang. Lalu Yan Zi mengangkat kepalanya dan bertanya pada Raja Qi, “Di zaman dulu, bagian tubuh mana yang dipotong lebih dahulu oleh para leluhur kaisar?”

Seketika itu Raja Qi segera bangkit dari duduknya dan berkata, “Lupakan, dan biarkan dia pergi. Ini kesalahan saya.”

RENUNGAN :
Bijaksanalah dalam mengambil tindakan.

KISAH KEBAJIKAN YAN ZI DE GU SHI (2)


1. Raja Qi berhenti mabuk
Qi Jing Kong, raja Kerajaan Qi, sangat gemar mabuk-mabukan dan melakukannya hampir setiap hari. Seorang menteri berusaha berbicara terus terang kepada raja, “Yang Mulia, Anda telah bermabuk-mabukan selama tujuh hari berturut-turut. Mohon utamakan kepentingan negara dan berhentilah minum. Jika tidak, bunuhlah saya.”

Ketika Menteri Yan Zi menemui Raja Qi, sang raja mulai berkeluh kesah, “Xuan Chang menginginkan saya berhenti mabuk, atau menjatuhkan hukuman mati padanya. Jika saya mendengarkannya, saya tidak akan pernah merasakan anggur lagi. Jika saya tidak menghiraukannya, dia ingin saya membunuhnya. Apa yang harus saya lakukan?”

Yan Zi berkata, “Sungguh beruntung dia dapat mengabdi kepada raja yang bermurah hati seperti Anda! Jika dia melayani seorang raja seperti Jie ataupun Zhou, yang keduanya dikenal sebagai tiran, dia akan kehilangan nyawanya jauh-jauh hari.”
Setelah mendengar perkataan Yan Zi, Raja Qi berhenti mabuk-mabukan.

2. Anjing Raja Qi
Ketika anjing Raja Qi Jing Gong mati, dia memerintahkan membuat peti mati khusus dan upacara pemakaman yang megah.
Begitu Menteri Yan Zi mendengarnya, dia bertanya pada raja untuk mempertimbangkannya kembali.

Raja Qi berkata, “Tetapi ini hanyalah sekedar kegembiraan.”
Yan Zi menjawab, “Yang Mulia, ini tidak benar. Ketika Anda meminta rakyat membayar pajak, Anda tidak mengembalikan kepada mereka, malah menggunakannya untuk menyenangkan orang-orang di sekitar Anda. Apa yang kami harapkan dari negara ini? Ada rakyat yang miskin, lemah dan orang tua yang mati kedinginan, namun seekor anjing malah memperoleh kehormatan upacara pemakaman. Tidak satu pun yang peduli ketika orang miskin meninggal, namun seekor anjing mati mendapatkan peti mati dan upacara pemakaman yang mewah.

Disaat rakyat mengetahui perilaku Anda, mereka akan memprotesnya. Ketika negara tetangga mendengarnya, mereka akan memandang rendah kita. Yang Mulia, Anda harus memperhatikan hal ini secara serius.”

Akhirnya Raja Qi mendengarkan nasehat Yan Zi, dan membatalkan upacara pemakaman tersebut.

3. Burung Raja Qi
Raja Qi memiliki kegemaran menangkap burung dan memeliharanya. Suatu hari seorang pekerja yang merawat burung, Zhu Zou tidak sengaja melepaskan seekor burung.

Raja Qi sangat murka mendengarnya dan menjatuhkan hukuman mati kepada Zhu Zou. Yan Zi berkata, “Zhu Zou telah melakukan tiga tindak kejahatan. Bagaimana jika Anda membiarkan saya mengatakan padanya, sehingga dia bisa meninggal dengan tenang?”

Raja Qi sangat gembira mendengarnya dan berkata, “Ya.” Ketika Zhu Zou masuk ke ruangan raja, Yan Zi berkata pada Zhu Zou dengan serius, “Anda telah melakukan tiga kejahatan, apakah Anda mengetahuinya?
Pertama, Anda seharusnya merawat dengan baik burung-burung milik raja, namun Anda malah membiarkannya lepas.
Kedua, raja kita harus membunuhmu demi seekor burung.
Ketiga, ketika berita ini tersebar keluar, setiap orang akan mengetahui bahwa raja kita lebih memedulikan burung daripada rakyatnya.
Anda telah menodai reputasi baik raja. Anda memang pantas mati ribuan kali.”

Setelah mendengarnya, Yan Zi meminta Raja Qi segera membunuh Zhu Zou. Namun Raja Qi berkata, “Tidak, jangan bunuh dia. Saya telah cukup mendapatkan pelajaran dari kalian.”

RENUNGAN :
Pikirkan matang-matang dalam melakukan segala sesuatunya terlebih dahulu sebelum menjalankan atau memvonis suatu masalah yang belum dipelajari lebih dalam yang sesudahnya menyesal kemudian.

KISAH KEBAJIKAN YAN ZI DE GU SHI (1)


Pada masa Chun Qiu, kerajaan Qi memiliki seorang perdana menteri yang bernama Yan Zi. Yan Zi sangat pandai berbicara & cerdik. Yan zi mempunya tinggi badan kurang dari 1,5 meter dan berwajah pucat, namun dia dikenal sebagai pejabat yang adil dan baik terhadap rakyat. Dia hidup sangat sederhana dan hemat. Sebagai seorang menteri istana, ia sering memberi nasehat apa adanya apabila raja melakukan sesuatu hal yang tidak pantas.
Melakukan hal itu harus membutuhkan keberanian yang luar biasa, karena nyawa sebagai taruhannya apabila menyinggung raja. Namun, Yan Zi seorang yang cerdas dan terampil sehingga ia bisa mencapai tujuannya.

Sima Qian, sejarahwan besar Tiongkok kuno, pemikir dan penulis, menyebut Yan Zi sebagai diplomat paling handal. Yan Zi menjabat selama masa pemerintahan 3 raja dari Kerajaan Qi. Dia seorang jenius yang langka, sehingga membuat Kerajaan Qi kuat dan makmur selama masa tersebut.

Suatu ketika raja Qi memerintankan Yan Zi untuk mengunjungi kerajaan Chu. Raja Chu ingin mempermalukannya. Raja bertanya kepada Yan Zi, “Apakah tidak ada orang lain di ibukota? Mengapa mengirim Anda?” Yan Zi menjawab, “Oh iya, di ibukota jika semua orang mengangkat lengan bajunya, mereka dapat menghalangi sinar matahari, karena ada 8.000 jiwa di sana.”

Raja menambahkan, “Tapi mengapa orang pendek seperti Anda berani datang ke Negara Chu?”

Yan Zi Menjawab, “Yang Mulia, sistem pemerintahan tiap negara berbeda dengan yang lainnya. Raja Qi mengirimkan seorang utusan cerdas untuk seorang raja yang cerdas, dan utusan yang bodoh untuk seorang raja bodoh. Saya seorang yang berkemampuan, jadi saya datang ke Negara Chu.”

Pada kesempatan berbeda, ketika Yan Zi pergi ke Negara Chu, Raja Chu dan semua menterinya berencana untuk menghinanya.

Raja Chu mengetahui postur tubuh Yan Zi yang tidak pada umumnya. Ketika rombongan Yan Zi tiba di depan gerbang ibu kota, penjaga membukakan pintu kecil untuknya. Yan Zi sangat jelas apa yang ada dalam pikiran raja. Lantas dia mengatakan pada penjaga, “Tolong tanyakan pada raja, negara macam apa ini. Jika saya seorang utusan untuk negara anjing, saya akan lewat melalui pintu kecil ini. Apabila tidak, saya akan berjalan melalui pintu biasa.”

Setelah raja mendengar pesan Yan Zi, ia tidak mempunyai pilihan selain mempersilakan Yan Zi masuk melalui pintu biasa.
Di tengah-tengah perjamuan makan, tiba-tiba penjaga membawa masuk seorang pria yang diborgol. Raja Chu bertanya, “Siapa orang ini dan mengapa ia berada di sini?”
Penjaga berkata, “Dia pencuri dan datang dari Negara Qi.” Raja menoleh dan bertanya pada Yan Zi, “Apakah rakyat Qi suka mencuri?”

Yan Zi bangkit dari kursinya, dan berjalan ke hadapan raja. Dia lalu berkata, “Saya mendengar bahwa pohon jeruk dari selatan Sungai Huai akan menghasilkan jeruk, tetapi jika mereka tumbuh di sebelah utara Sungai Huai mereka akan menghasilkan Zhi. Daun jeruk dan Zhi mirip, tapi rasa buah mereka sangat berbeda. Mengapa demikian? Hal ini karena mereka tumbuh di tanah yang berbeda. Sekarang apa bedanya dengan orang Qi ini. Ketika ia tinggal di Negara Qi, dia tidak pernah mencuri. Setelah pindah ke Negara Chu, ia telah menjadi seorang pencuri. Apakah Yang Mulia pikir itu dikarenakan air dan tanah Chu yang membuatnya berubah?”

Setelah mendengar itu, dengan perasaan malu Raja Chu berkata, “Orang tidak boleh mengolok-olok orang yang berbudi luhur. Saya telah mempermalukan diri sendiri.”

RENUNGAN :
Pesan kisah diatas adalah Jangan memandang rendah bagi setiap orang, karena hidup kita selalu berubah-ubah kadang ada yang sukses kadang ada yang terpuruk juga.(ada yang diatas ada yang dibawah).

Tuesday, 23 July 2013

KISAH PEJABAT LU XIANGXIAN : ORANG YANG SERING MENCIPTAKAN MASALAH BAGI DIRINYA SENDIRI.


Ada sebuah ungkapan Tiongkok, " Rata-rata orang menciptakan masalah bagi diri mereka sendiri,” yang menggambarkan bagaimana orang-orang biasa tidak mempunyai hal yang lebih penting dari pada menciptakan masalah bagi diri mereka sendiri.

Di New Tang Book, Lu Xiangxiang’s Biography. "Dunia itu penuh kedamaian, tetapi, rata-rata orang menyebabkan kesulitan bagi dunianya sendiri."

Sejak pemerintahan kaisar Ruizong di masa Dinasti Tang (18 Juni 618 – 4 Juni 907), ada seorang pejabat di lingkungan istana bernama Lu Xiangxian ( 陸象先) (665–736).

Dia adalah orang baik, toleran, berpengetahuan luas, dan mampu serta berani menasihati kaisar secara jujur. Kaisar hormat kepadanya. Tetapi, suatu saat dia membuat marah kaisar dan karenanya ia dimutasi menjadi gubernur kota Yizhou.

Setelah Lu Xiangxian menempati jabatan barunya, dia sangat murah hati dan baik pada orang setempat. Bahkan ketika dihadapkan padanya para penjahat, dia jarang sekali menghukum mereka dengan penyiksaan. Malahan dia mencoba membujuk mereka untuk melakukan kebaikan dengan mengajarkan prinsip-prinsip moral. Asisten Lu bercerita kepada Lu.

“Orang-orang setempat sulit diatur, dan Anda harus menghukum mereka dengan hukuman yang lebih berat untuk mengukuhkan dominasi Anda. Atau sebaliknya, tidak ada orang yang menghormati Anda,”kata Asistennya itu.

Lu Xiangxian menggelengkan kepalanya dan berkata kepadanya “Orang-orang setempat seharusnya diperintah dengan mengajarkan mereka prinsip-prinsip moral. Dengan cara ini, masyarakat akan stabil dan orang-orang akan menikmati kehidupan yang baik dan makmur. Selanjutnya, orang-orang akan mengikuti Anda. Mengapa kita perlu menggunakan hukuman untuk memperoleh penghormatan dari mereka?” jawab Lu.

Setelah itu, Lu Xianxian memerintah kota Yizhou dengan gayanya sendiri. Suatu saat seorang pejabat berpangkat rendah melanggar hukum. Lu menegur dia dan menasehatinya untuk tidak melakukannya lagi, tetapi salah seorang bawahannya berpikir bahwa hukuman bagi pejabat rendah itu sudah sangat jelas yaitu harus dipukul dengan tongkat. Lu Xianxian dengan serius berkata kepada bawahannya.

"Semua manusia mempunyai perasaan dan emosi. Saya telah menegurnya mengapa dia melanggar hukum. Karena ia adalah anak buahmu, ketika ia berbuat kejahatan, apakah Anda mau bertanggung jawab? Jika saya perlu menghukumnya, tidakkah seharusnya saya memulai dari Anda,” ujar Lu. Setelah ia mendengar kata-kata Lu, bawahannya ini merasa malu dan pergi.

Lu Xiangxian memerintah kota Yizhou dengan sangat baik. Orang-orang setempat menjadi baik dan hidup dengan tentram, sementara pemerintah setempat sangat respek dengan Lu. Lu sering bercerita kepada bawahannya, bahwa dunia ini sebenarnya penuh kedamaian dan tidak banyak hal penting yang terjadi.

Tetapi beberapa orang awam kurang pengetahuan dan menciptakan masalah bagi diri mereka sendiri. Walhasil, sebuah isu yang bisa diselesaikan dengan mudah berubah menjadi masalah besar. "Saya pikir, sekali kita memecahkan masalah ini secara fundamental, akan hanya ada sedikit masalah di kemudian hari,” katanya.

RENUNGAN:
Orang-orang sering telah melupakan kisah yang diceritakan kepada kita. Carilah sebab musababnya dari kaca mata moral. Sebaliknya, untuk mencegah hal buruk terjadi, segala macam hukum dan aturan dibuat. Strategi ini secara nyata bertolak belakang dengan apa yang direkomendasikan oleh Lu Xiangxian.

Saturday, 20 July 2013

KISAH GAO FENGHAN MEMBANTU PENGEMIS


Gao Fenghan ( 高凤翰 1683-1748 SM) adalah seorang seniman terkenal pada Dinasti Qing, banyak lukisan pada dinasti Qing adalah hasil karyanya.

Pada suatu hari, ketika Gao Fenghan sedang dalam perjalanan diabertemu dengan seorang pengemis tua yang buta, yang memegang sebuah mangkuk sedang mengemis di jalanan, terlihat sangat menyedihkan.

Melihat hal tersebut didalam hati Gao Fenghan timbul rasa kasihan dan melihat mangkok di tangan pengemis sangat bagus, lalu dia membawa pengemis tersebut pulang kerumahnya, mengundang pengemis tersebut makan.

Setelah pengemis tersebut selesai makan, Gao Fenghan lalu mencuci bersih mangkok makanan pengemis, serta menggunakan pedangnya menulis sebaris kata di mangkok tersebut. “Langit kelabu gelap, jalan di depan samar-samar, langkah kaki tidak bebas berkelana di dunia, susah mendapatkan semangkok nasi cuma-cuma.” Lalu dibawahnya dibubuhi tanda tangannya.

Baris puisi sang penyair ini sangat puitis, ukirannya pedangnya sangat halus, ditambah dengan nama terkenal dari Gao Fenghan saat itu, oleh sebab itu pengemis ini membawa mangkok ini mengemis kemanapun, semua orang dengan berebutan mengundang dia makan, demi untuk menikmati karya Gao Fenghan yang terkenal.

Mulai saat itu pengemis tersebut tidak kekurangan makanan, setiap hari dia dapat makan dengan kenyang. Dan pada saat pengemis tersebut meninggal, berkat dari menjual mangkoknya itu sehingga bisa mempunyai uang untuk mengurus pengebumiannya.

Tidak berapa lama setelah pengemis tersebut meninggal, pada suatu malam, Gao Fenghan bermimpi pengemis ini berkunjung kerumahnya untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikannya, kebetulan pada malam tersebut pembantu di rumah Gao Fenghan melahirkan seorang putra. Gao Fenghan menyadari bahwa anak tersebut adalah reinkarnasi dari pengemis tersebut.

Lalu dia memberi nama kepada anak lelaki tersebut Piau Er. Setelah Piau Er besar dia menjadi pelayan dirumah Gao Fenghan, dengan sangat telaten melayani Gao Fenghan melebihi pembantu yang lain. Setelah Gao Fenghan tua, sakit dan tidak bisa berjalan dengan normal, Piau Er dengan telaten melayani serta memapahnya berjalan, siang malam berjaga di sampingnya.

Orang yang mengetahui hal tersebut berkata, “Gao Fenghan berbuat baik mendapat balasan baik, karena kebaikan hatinya menolong pengemis pada masa mudanya, sehingga di hari tua ada orang yang melayani dia dengan setia.

Tuesday, 2 July 2013

KISAH ANUGRAH DAN PETAKA (KISAH SINGKAT)


Pada masa pemerintahan Dinasti SONG, terdapatlah seseorang yang amat gemar melakukan kebajikan, bahkan hingga tiga tingkat keturunannya.

Suatu hari, sapi hitam piaraannya melahirkan seekor anak sapi putih. lalu dia bertanya kepada Sang Guru Suci tentang kejadian hari ini. Sang Guru Suci berkata:"Ini pertanda baik! sebaiknya dipersembahkan kepada tuhan."

Tak tahunya setelah lewat setahun, si ayah menjadi tunanetra. tak lama kemudian lahir lagi seekor sapi putih. dia mengutus anaknya pergi menemui Sang Guru Suci, tapi anaknya berkata: "dulu, ayah menjadi buta setelah bertanya kepada beliau. sekarang, untuk apa lagi kita pergi?"

"Ucapan Sang Guru Suci sulit dicerna pada awalnya, tapi akan berakhir dengan kebenaran. apalagi soal anugerah atau kemalangan yang sangat jelas diketahui oleh Beliau. cepatlah kamu pergi bertanya!" ujar sang ayah.

Si anak segera pergi menanyai Sang Guru Suci."Ini alamat baik!" jawab Sang Guru ketika ditanya. kembali lagi Sang Guru Suci menyarankan untuk dipersembahkan kepada Tuhan. sepulangnya, si anak memberitahukan ayahnya, lalu sang ayah berkata:"Turuti saja apa yang dikatakan oleh Sang Guru."

Kira-kira setahun kemudian, anaknya juga buta tanpa sebab. berselang beberapa lama kemudian, negara CHU menyerang ibukota negara SONG. para serdadu yang terkepung kehabisan ransum yang akhirnya memakan anak sendiri dengan buas. karena kehabisan kayu bakar, tulang manusia dijadikan sebagai bara. seluruh pemuda yang sehat dikerahkan menjadi pasukan perang. banyak diantara mereka gugur. tinggal ayah beranak yang buta itu terhindar dari musibah peperangan. setelah perang usai, kedua ayah beranak itu dapat melihat kembali.

RENUNGAN:
Kemalangan ada kalanya hadir bersama anugerah." sebuah kemalangan yang ditakuti manusia, bisa saja membawa anugerah di kemudian. sebaliknya, anugerah yang berlimpah, bisa saja mengundang hadirnya kemalangan. dalam perkara membina diri, kemalangan atau anugerah yang datang, terimalah dengan lapang dada dimana suatu kemalangan pasti ada hikmah anugerah didalamnya.