Monday, 17 June 2013

Melati Ini Untukmu Kawan

===Melati Ini Untukmu Kawan===

Melati Ini Untukmu Kawan





Air mata ini tak hentinya mengalir di wajahku yang tertunduk lemas memandangi gundukan tanah merah pemakaman yang hampir merata. Rangkaian melati segar yang sengaja kubawa jauh jauh dari kota asalku Kendal pun kini ikut layu seakan menandakan akhir dari sebuah janji dan harapan indah untuk kembali bertemu.

Aza, seorang kawan yang telah merubah penilaian rendahku selama ini tentang pria. Sebelum aku mengenal Aza, aku selalu menganggap semua pria itu sama, tak ada yang berhati dan berotak, dan hanya dalam masa dua bulan kebersamaanku dengan Aza, hidupku kini telah banyak berubah ke arah yang lebih baik.

Aku bertemu dengan Aza kira-kira tiga tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 januari 2010, saat kami sama-sama menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di sebuah TV komunitas yang berada di daerah Magelang.

Aza datang dari Medan, sedangkan aku asli jawa tengah, jadi seringkali perbedaan kata dan logat bicara menjadi hal yang baru dan lucu bagi kami.

Tak ada yang spesial di awal perkenalanku dengan Aza, karena waktu itu pun aku menganggap Aza tak lebih dari pria bodoh, namun ternyata, waktu yang singkat telah mampu merubah anggapan itu..

Airmata bagiku adalah hal yang mustahil untuk hilang dari hidupku, dan kawan, tak lebih dari lawan yang bersembunyi dibalik senyuman yang sewaktu-waktu dapat menciptakan lebih banyak air mata.
Seperti waktu itu, saat semua anggota kelompok tugas filmku tak ada yang bertanggung jawab dengan tugasnya masing masing, sedangkan posisiku waktu itu adalah ketua kelompok yang paling bertanggung jawab atas jalannya produksi film yang ditugaskan oleh bapak Tanto, pembimbing PKL kami.

Kelemahanku adalah ketidak tegasanku, dan menangis adalah hal tak berguna yang ku ketahui namun tetap kulakukan karena hanya itu yang bisa kulakukan dalam ketidak berdayaanku, itu pendapatku yang dikatakan bodoh oleh Aza,

"Bodoh kali kau! jalan pikiranmu itu tak secerdas naskah yang kau buat!!" ucap Aza dengan nada tegas dan bijak saat tiba-tiba menemuiku yang sedang menyendiri dan menangis di belakang studio tv.

"Mereka susah kali diaturnya Za.." jawabku lemas.

Aza lalu memetik tiga buah bunga melati yang banyak tumbuh di belakang studio, Ia lalu memberikannya satu kepadaku.

"Ni makan, kau suka melati kan...?" pintanya dengan serius, aku bingung, aku memang sangat suka melati, tapi aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk memakannya.

"Ah gila kau! orang lagi stres gini disuruh makan melati!" jawabku kesal.

"Itulah kau, hanya mau menikmati keindahan dan wanginya saja.., padahal ada kenikmatan yang luar biasa jika kau mau merasakannya.." ucap Aza sambil memakan satu melati, Ia mengunyah melati itu dengan santainya lalu menelannya. Aku hanya melihatnya dengan terbengong.

"Ih, kau gila..! kan rasanya pahit...!!" ucapku pada Aza.

"Sok tau kau! emang kau pernah makan melati?" tanyanya dengan santai. Aku hanya menggelengkan kepala.

"Terus darimana kau tau kalau melati ini pahit..?" lanjut Aza, akupun tak mampu menjawabnya karna memang aku tak tau.

"Itulah yang membuat dirimu selama ini gak happy, kau hanya melihat segala sesuatunya hanya dari sudut pandang yang mudah terlihat tanpa mau melihat yang tak terlihat, padahal disitulah kau akan menemukan makna dan hikmah dari semua masalahmu..dan kau selalu memvonis buruk semua yang sebenarnya belum kau ketahui kebenarannya.." jelas Aza dengan penuh kedewasaannya yang membuatku terkagum-kagum tapi tetap tak mengerti maksud dari kata-katanya.

"Maksudnya? aku gak mudeng.." tanyaku dengan tampang blo'on.

Aza lalu membuka telapak tangan kananku dan memaksaku menerima satu melati yang tersisa ditangannya.

"Kau makanlah melati ini, baru kujelasin ntar.." jawab Aza, Ia lalu pergi meninggalkanku.

Sejak hari itu aku dan Aza sangat dekat, meski aku dan Aza memiliki adat yang jauh berbeda, namun kedewasaannya dan cara berpikirnya yang bijak telah membuatku merasa nyaman saat aku bersamanya. Diapun kuanggap sebagai abangku sendiri. Azalah yang selalu menemukanku saat menyendiri dan menangis. Ia selalu menenangkanku dengan kata-katanya yang bijak meski tak kumengerti.

Dan tibalah saat menyedihkan yang tak ingin kulalui namun itu tetap terjadi, itulah saat perpisahanku dengan Aza. Tak terasa waktu dua bulan telah berlalu, dan kami harus kembali ke jalan hidup sebelum kami bertemu. Aku harus kembali ke Kendal untuk melanjutkan sekolahku, begitu juga dengan Aza.
Pagi itu aku sengaja menjauh darinya agar tak ada air mata perpisahan, namun itu hanya sia-sia, Aza kembali menemukanku di belakang studio.

"Kenapa belum pulang kau??!!" tanya Aza yang mengagetkanku.

"Kau ngusir aku??" jawabku kesal. Aku berusaha menahan airmataku agar tidak keluar dan dilihat Aza, tapi nampaknya Aza sudah tau. Ia lalu duduk disampingku, satu tetes air mata tak mampu ku kendalikan dan mengalir di pipiku, saat aku ingin segera mengusapnya dengan tanganku, tiba-tiba Aza mencegahnya.

"Kalau mau nangis ya nangis aja, mungkin ini adalah saat terakhir kita ketemu.." Ucap Aza dengan serius, matanya tajam menatapku, memang tak ada air mata di sana, namun kesenduan itu terlihat jelas di wajahnya. Akupun tak bisa lagi membendung air mataku yang akhirnya ku biarkan keluar.
Aza hanya diam membiarkanku menangis, Ia lalu memetik dua melati dan memberikannya satu untukku.

"Ini permintaanku yang terakhir kali.., makanlah.." pintanya kepadaku. Aku menerima melati itu, namun aku menggelengkan kepala tanda aku tak mau memakannya.

"Aku mau makan, tapi kau harus janji kalau kita bisa ketemu lagi..." pintaku dengan penuh air mata.

"Kalau Tuhan yang ingin ketemu aku duluan gimana?" jawab Aza. Aku tak mengerti kata-katanya. Aza lalu tersenyum dan mengacungkan jari kelingking kanannya tanda berjanji, Akupun lalu mengkaitkan jari kelingking kananku dengan Aza, dan kami pun berjanji.

"Ntar kau yang harus datang ke Medan, dan bawakan aku melati asli Kendal, akan kucoba gimana rasanya, kita makan melati bersama nanti.." ucap Aza sambil tertawa, meski kesenduan itu masih terlihat jelas di wajahnya. Aku pun ikut tersenyum, dalam hati aku berjanji akan memenuhi permintaannya.

"Andaikan kau datang kembali, jawaban apa yang kan kuberi, adakah jalan yang kau temui, untuk kita kembali lagi.." itu adalah lagu koes plus yang sering Aza nyanyikan untukku, dan hingga kini, aku sangat menyukai lagu lawas itu, hampir setiap hari aku melihat rekaman video saat Aza menyanyikan lagu itu.

Tak terasa sudah 3 tahun aku berpisah dengan Aza, sejak satu bulan setelah kami berpisah, Aza sama sekali tak bisa kuhubungi, awalnya aku berpikir dia sibuk, tapi hingga kini Aza tak pernah memberiku kabar.

Pagi itu, saat aku melihat video rekamannya, aku teringat dengan satu permintaannya agar aku mau makan melati. Aku pun segera menuju halaman rumahku, ada satu pohon melati yang tumbuh di sana, aku lalu memetik satu melati yang sudah mekar, kucoba mengambil satu kelopak bunganya dan perlahan kumasukkan ke mulutku, awalnya terasa pahit, tapi setelah aku mengunyahnya rasanya menjadi sangat berbeda dan tak bisa kuungkapkan dengan kata ataupun tulisan. (kalau kalian mau coba aja sendiri..hohoho). Aku lalu teringat janjiku untuk datang ke Medan dan membawakan melati asli Kendal untuknya.

Entah apa yang merasuki hati orang tuaku, tiba-tiba saja mereka langsung mengijinkanku untuk berlibur ke Medan pada liburan semester tahun ini. Aku pun sangat senang dan tak sabar menanti hari itu, tak lupa aku juga membawakan melati yang kurangkai spesial untuk Aza.

Akhirnya kuinjakkan juga kakiku di kota Medan ini, dan Aku segera menuju ke alamat yang dulu diberikan Aza sebelum kami berpisah. Kurang lebih satu jam dari bandara, aku sampai di sebuah rumah yang bercat dinding serba putih. Aku lalu mengetuk pintu rumah itu, tak berapa lama keluar seorang wanita paruh baya membukakan pintu untukku, ku pikir itu ibunya, dan ternyata itu memang benar ibunya.

Aku lalu memperkenalkan diriku dan menyampaikan maksud kedatanganku untuk menemui Aza. Tiba-tiba ibu Aza menangis.

"Dulu Aza sering cerita tentang kamu, dia bilang, bertemu denganmu telah memberikan warna yang berbeda disisa waktunya..." ucap ibu Aza sambil mengusap air matanya dengan sebuah tissue. Aku bingung.

"Dulu??? emang sekarang Aza kemana??" tanyaku dengan penasaran.

Ibu Aza tak berkata apapun, Ia lalu mengantarkanku ke sebuah tempat dan meninggalkanku sendiri di sana agar aku bisa leluasa memarahi Aza yang tak menepati janjinya.

"Kau kenapa jahat kali sama aku..!! kau janji kalau kita pasti akan ketemu lagi, kau minta aku datang ke Medan, sekarang aku udah datang Za..., aku juga sudah bawakan melati yang banyak asli dari Kendal untuk kita makan bareng, Melati ini Untukmu Kawan.. Kau jangan diam aja Za..!! bangunlah..!!!" ucapku pada satu raga yang hanya diam bersembunyi dibalik gundukan tanah merah.
Air mataku tak hentinya mengalir, aku tak percaya Aza telah tiada, radang paru-paru telah menghancurkan sebuah janji dan harapan untuk kembali bertemu.

Aku lalu memakan melati yang kubawakan untuk Aza meski sudah agak layu,

"Kau lihat kan Za, aku udah makan melati ini, kau juga mau kan? ini.." Aku lalu menaburkan semua melati yang kubawa di atas pusara Aza.

"Kalau Tuhan yang ingin ketemu aku duluan gimana?"
Ternyata memang Tuhan lebih dulu ingin bertemu dengan Aza, dan aku yakin pertemuan itu pasti lebih indah daripada pertemuanku dengan Aza.

==selesai===

Monday, 13 May 2013

cerita romantis terbaru

cerita romantis terbaru
cerita romantis terbaru
cerita terbaru


cerita terbaruCerita ini  dikisahkan oleh seorang pria bernama Duel yang memiliki seorang adik perempuan bernama Rin. Suatu hari Rin mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia koma untuk waktu yang lama. 

Pada hari kedua setelah Rin mengalami kecelakaan, seorang pria seumuran Rin datang melihat Rin. Dari parasnya sudah bisa kutebak kalau namanya adalah, Zero pria yang sering Rin ceritakan kepadaku.

"Anu.. nama kamu Zero kan ?" tanyaku padanya.
"Ya.. Mengapa kakak bisa tahu namaku ?" Tanyanya heran.
"Rin sering menceritakan tentang kamu, apakah kamu kekasih Rin?"

Setelah diam sejenak ia menjawab “Bukan.. Aku sahabatnya. Jujur aku mempunyai perasaan lebih pada Rin. Tapi, sampai ia koma sekarangpun aku belum menyatakan kepadanya” Ucapnya sambil menatap kearah Rin yang terbaring koma.
"Kakak rasa Rin juga mempunyai perasaan yang sama kepadamu Zero"
"Maksud kakak ?"

"Sebaiknya kamu membaca diary yang Rin tulis ini" Ucapku sambil menyodorkan diary itu padanya.

Sejenak aku melihat Zero yang membaca diary tersebut terlihat sedih. Terang saja, soalnya aku tahu, diari itu berisi tentang perasaan Rin pada Zero selama ini.

Sejak saat itu, Zero selalu datang melihat Rin yang koma setiap hari. Sampai-sampai terkadang aku melihat dia mengerjakan tugas sekolah di ruangan Rin. Sering kuintip dari sisi pintu, Zero memegang tangan Rin sambil berbicara sendiri entah dengan siapa, tapi aku biarkan saja karena aku tahu Zero seperti itu untuk menghibur dirinya sendiri dengan cara menganggap Rin telah sadar dari komanya.

Setelah tiga bulan, akhirnya Rin sadar dari komanya. Tidak seperti biasanya, pada hari dimana Rin sadar Zero malah tidak datang. Padahal Zero tidak pernah absent mengunjungi Rin sejak hari pertama ia datang meelihat Rin. Setelah kondisi Rin membaik, aku mulai menceritakan tentang apa yang terjadi selama tiga bulan Rin koma, termasuk perasaan dan tingkah Zero selama itu. Aku senang melihat Rin mulai tersenyum ketika aku menceritakan tentang Zero.

"Kakak tahu..? Dalam kondisi enggak sadar aku selalu merasakan Zero disisiku. Kami mengobrol bersama dan ia selalu mendukung agar aku cepat sembuh" Ucap Rin padaku.

"Yahh mungkin saja apa yang dilakukan Zero selama ini telah membantu Rin agar sadar dari komanya" pikirku.

"Kata kakak,Zero selalu datang setiap hari, tapi mengapa aku tidak melihat dia sama sekali hari ini..?" Tanya Rin heran.

"Kakak juga enggak tahu, mungkin Zero ada keperluan yang enggak bisa dia tinggal. Kamu bersabar saja yahh" Jawabku. Sebenarnya aku juga merasakan ada hal yang aneh yang terjadi hari itu.

Beberapa hari telah berlalu, Rin sudah terlihat cukup sehat dan bisa berjalan. Tetapi ia terlihat sangat sedih dan kecewa karena Zero tidak datang sama sekali semenjak Rin sadar dari komanya. Akhinya siang itu aku memutuskan untuk mengajak Rin kerumah Zero untuk menemui Zero. Dirumahnya kami melihat seorang ibu yang terlihat sedang menangis. Dengan memberanikan diri kami menanyainya :

"Permisi.. apakah ini rumah Zero bu ?" tanyaku pada ibu itu

Tetapi bukannya menjawab ibu itu malah semakin menangis dan tak berapa lama kemudian seorang perempuan keluar dan mengajak kami agar sedikit menjauh dari ibu itu.

"Kamu Rin kan ..?" Tanya perempuan itu pada Rin.
"Ya kak,Zero mana ? kenapa aku enggak melihatnya ?"

Sejenak aku melihat perempuan itupun menangis dan masuk kembali kedalam rumah. Beberapa saat kemudian perempuan itu keluar kembali dan menyodorkan sebuah diari yang bertuliskan “Untuk Rin” Dihalaman depannya. Samar-samar disana aku melihat bercak merah, entah apakah itu aku juga belum tahu pada awalnya

"Beberapa hari yang lalu saat Zero pulang dari melihat Rin seperti biasanya. Zero mengalami kecelakaan yang menyebabkan pendarahan parah pada kepalanya. Tim medis tak dapat menolong banyak dan akhirnya Zero meninggal pada hari itu sambil memegang Diary ini." Ucap perempuan itu yang membuat kami sangat kaget. Kontan saja Rin yang kala itu terdiam langsung menangis sambil berteriak nama Zero. Akupun yang tak kuasa melihat Rin ikut menangis karena tidak menyangka hari itu adalah hari terakhir aku melihat Zero.

Dengan berbekal alamat dan denah dari perempuan tadi, kami mengunjungi makam Zero. Disana kami memanjatkan doa. Tetapi Rin yang kala itu masih bersedih sama sekali tidak bisa menahan rasa tangisnya. Di makam itu Rin kemudian membuaka diari yang ia dapatkan, di diari itu tertulis persaaan Zero selama tiga bulan Rin koma. Dan pada tulisan terakhir nya terdapat foto Zero dan Rin yang dibawahnya tertulis "Ya tuhan, jika nanti aku telah tiada, tolong engkau jagalah ia untuku ya Tuhan. Pertemukanlah ia dengan lelaki lain yang bisa membuatnya tersenyum dan mencintai serta menjaganya dengan ikhlas sama seperti yang aku lakukan selama ini"

itulah ceritanya ,, makasih telah melihat ceritanya.

Sunday, 12 May 2013

cerita jawa lucu terbaru

cerita jawa lucu terbaru
cerita jawa lucu terbaru

Minggu wingi, TRIO SMS (Sardot,Mukri,Sodron) mlaku mlaku neng gunung kembar sing terkenal angker

Modal nekat Trio SMS kui mau munggah gunung karo ngowo perlengkapan kemah.

Nang pertengahan dalan..Sardot sing paleng elek dewe antara liane ketemu wong tuek nganggo klambi serba putih, jenggot putih lan rambut putih 

"Wahai pemuda,Ojo sampek kowe lan konco koncomu ngidek kodok kodok openan kuu, nek sampek ngidek, jodohmu Mesti elek"
(wangsite mbah mau)

Amargo wedi, sardot langsung ngejar koncone, nganti ngos ngosan

Sardot cerito Kedadian mau neng konco koncone

Sardot: Heh Cah..Kowe ojo sampek ngidek kodok nang gunung iki, mengko ono kutukan jodoh , Awak'e dewe wes Elek.

Sodron+Mukri: "dot..dot.. ngunu ae kok mok percoyo,Tahayyul iku"

Sampek neng puncak gunung..sardot seneng, soale ora ngidek kodok, tapi Sodron karo Mukri kerep (sering) ngidek kodok..

10 taun sakwise, Trio SMS reunian, acara Makan bersama nang mall, Sardot, Sodron lan Mukri nggowo bojone dewe dewe.

Sardot: "eleng 10 taun mbiyen neng gunung kembar gak Cah..?? kedadian tenan kan kutukan iku? wokwokwok (ngguyu tengu)

Sodron: Opo maksudmu dot..??

Sardot: "Delok'en bojomu Dron,mirip mpok Nori..xixixi...(mesem mermut)

Sodron: Meneng (Ngombe juss)

Sardot: "Delok'en bojomu Kri,mirip mpok Ati..xixixi (ngguyu ngece)

Mukri: " Meneng (Ndilati gelas adahe juss)

Sardot: "Delok'en bojoku,mirip Aura kasih, iki amarga aku ora ngidek kodok blas whehehe.. (ngguyu luwak)

Mukri "iyo..yo.. bener jare sardot yo dron, aku nyesel gak percoyo nang kowe Dot"

Amargo penasaran Sodron takon neng bojone sardot

Sodron: "mbak, sampean kok purun kaleh rencang kulo sing Baguse sak asia tenggara untune ugo gingsul pitu niki? padahal sampean ayu mirip Aura Kasih?"

Juminten: "Anu mas..

.Aku kenek kutukan neng GUNUNG KEMBAR amargo NGIDEK KODOK"

#Sodron lan Mukri ngakak
terus mencolot (lompat) teko
mall sing tingkat 10

Thursday, 9 May 2013

kisah romantis yang tragis





 kisah romantis yang tragis
Di sebuah perkampungan kecil dan terpencil, terdapat dua sosok manusia yang sudah tua, hidup kurang kaya, dan tinggal di gubuk bilik dengan atap baligo dan spanduk bekas PILGUB kemarin. Meski keadaan yang seadanya, tapi mereka hidup rukun, damai dan romantis sampai berujung agak tragis. Mereka hidup bertiga dengan si Tongtong, yaitu seorang anak yang lucu, imut, dan agak amit-amit.., yang kemudian mereka anggap sebagai keluarganya sendiri.
Konon katanya, si Tongtong adalah saksi bisu keromantisan bulan modusnya yang ke 99..(bilang wowwWWW gk eahhhh????:-D). Tragedi itu menguak banyak misteri, terlebih dengan ditandainya perubahan si Tongtong yang signifikan, memutar balik 360* C. tingkahnya menjadi aneh.., terlebih lagi ketika ia menginjak remaja. Suara merdunya yang khas di malam hari “tokkee!!”… “tokkee!!”….. berubah menjadi “tokk**tt!!”…”tokk**tt!!.... Tongtong sang toke belang itu memang berubah menjadi beda dari sebangsanya akibat kosleting fikiran..karena terjatuh dari atap kamar saat menyaksikan  bulan modus kakek dan nenek yang ke 99 itu, (ini ciuzzssSS!!). Dari kejadian itulah..mereka  merasa iba dan prihatin terhadap si Tongtong, hingga perasaan itulah yang membuat mereka mengangkat si Tongtong menjadi anak angkatnya.
Tugas si Tongtong di siang hari  hanya beres-beres rumah dan belajar ditambah tidur sebagai waktu istirahatnya. Ma’lumlah…, dia kan di siang hari gak bisa keluyuran..(because TOKE gtu lochhhhhh !!!). heheeeee :-D!!, sedangkan nenek dan kakek pergi ke sawah dan ladang untuk bekerja. Mereka lebih memilih memberdayakan alam sekitar untuk memenuhi kehidupannya, ketimbang kerja nyari duit. “Toh..mereka yang kerja nyari duit juga makannya tanaman-tanaman yang seperti gue tanam!” (ujar si nenek..sambil menatap langit).
Hari ini nenek dan kakek pulang agak cepat, karena hanya nyawerin pupuk doang ke tanamannya. Karena waktu masih lenggang, sang kakek berencana pergi ke sungai untuk memancing ikan. Sebelum berangkat, sang nenek berpesan untuk dicarikan ikan yang banyak dan besar-besar. Sang nenek ingin ikan yang didapat nantinya dibuat menjadi pepes ikan kesukaan si Tongtong. Namun sang kakek tidak setuju bila ikan yang akan didapatnya dijadikan pepes, ia lebih memilih ikannya nanti dibakar dengan bumbu pecel kesukaannya. Mereka tetap mempertahankan argumennya, hingga terjadi perselisihan di antara keduanya.
Nenek: kalau nanti kakek dapat ikan, nenek bikinin pepes suppecial buat si Tongtong.. ia demen banget tuh..ma pepes buatan gue!!,,
Kakek: loh.., gue kan gak demen ma pepes!, gue maunya dijadiin ikan bakar samble pecel aja dehhhh…
Nenek: gak mau tauuU!!. (titik)
Kakek: oh.., jadi ini maunya lo?? ..it’s ok!
Nenek: teruuuuussssssssssss?
Kakek: lo, gue and!!” (titik, gak pake pepes-pepesan)
Nenek: gue nih cewek, gue juga punya diri harga! Jika itu mau loe, yaudahhh!”
Ditengah-tengah konflik yang terjadi, ternyata si Tongtong sudah terbangun. Ia mendengar semua kejadian itu. Si Tongtong terjatuh dari atap, setelah tak kuasa melihat pertengkaran nenek dan kakek. Ia mati terinjak oleh kaki sang kakek. Melihat hal tersebut, nenek yang marah tanpa berfikir panjang langsung memukul kepala kakek dengan langseng. Sang kakek tergeletak tak sadarkan diri, hingga ajalpun menjemputnya.
Sang nenek menangis dengan penuh penyesalan. Penyesalan yang tidak akan lagi ada gunanya. Ia baru tersadar..bahwa pertengkarannya dengan sang kakek hanyalah perdebatan tentang khayalan semata. Akhirnya nenek yang kini hidup sendiri, mengakhiri nyawanya dengan bunuh diri.. ia bunuh diri, karena penulis tak kuasa ingin mengakhiri ceritanya.. dan cerita tragis di ujung cerita ini adalah rekayasa penulis yang sangat tragis.. mudah-mudahan anda tidak menangis karena hati yang teriris oleh penulis. Selalu ada hikmah yang terkandung dalam perut cerita ini.. pesan terakhir dari penulis “ambil hikmahnya aja!”