Tuesday, 25 June 2013

Lelaki Sejati

Lelaki Sejati 



Lelaki Sejati
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar,
Tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang,
Tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya,
Tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati ditempat
bekerja,
Tetapi dari bagaimana dia dihormati di dalam rumah

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan,
Tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang,
Tetapi dari hati yang ada dibalik itu

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yg memuja,
Tetapi komitmennya terhadap wanita yang dicintainya

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari barbel yang dibebankan,
Tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci,
Tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca

dan Lelaki Sejati mampu dan tak malu mengakui segala kesalahannya
..

Sunday, 23 June 2013

Kehidupan Gadis Cantik

Kehidupan Gadis Cantik


kehidupan gadis cantik


Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di
halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.



Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.

BEGITULAH CERITANYA SEMOGA BERMANFAAT....

Saturday, 22 June 2013

Surat Rafa Untuk Reno Love In Paris


Surat Rafa Untuk Reno Love In Paris
Surat Rafa Untuk Reno Love In Paris


Ren, sumpah ini aneh dan canggung banget rasanya, nulis surat buat lo, lo pasti saat ini ngetawain gue dan bilang kalau gue gak laki banget, surat ini udah mendarah daging buat gue, coba ngungkapin hal-hal yang gak mampu gue ungkapin dari omongan melainkan cuma dari tulisan, gue juga ngerasa paling nyaman ninggalin surat wasiat kayak gini biar orang yang gue tuju bisa selalu inget dan baca lagi kapanpun mereka mulai lupain gue...

intinya bukan gue pengen di kenang sama lo sih, saat gue udah gak ada lagi nanti ya kapanpun itu tapi gue cuma pengen lo gak pernah lupa jagain dan hargain sesorang yang paling berarti penting di hidup gue selain nyokap gue yaitu Yasmin, buat gue Yasmin itu makhluk kecil yang punya anugerah yang luar biasa besar Ren...

kita gak perlu alasan buat mencintai dia karena dia lah alasan itu, gue sadar kalau gue cinta dia, saat gue ngerasa, saat gravitasi di bumi udah gak bekerja setiap gue di dekat dia, saat itulah cinta bicara, gak ada lagi logika yang berkuasa hingga rasa, gak peduli apa yang terjadi di masa nanti dan satu yang pasti Cuma ingin jadi alasan kebahagian buat Yasmin, jadi satu-satu yang dia butuhin meskipun mungkin hingga nanti bukan gue yang dia inginkan tapi gue akan selalu ada...

Bicara soal alasan untuk hidup Ren, kita sama–sama tau Jantung yang ada di badan lo bukan Punya gue dan satu hal lagi yang lo perlu tau, gue tau jantung siapa itu, Seandainya gue bisa kasih tau lo Ren tapi gue gak bisa karna gue udah janji sama nyokap gue, yang penting tuhan udah kasih lo kehidupan baru dan lo harus jaga itu, kalau gak semua ini Percuma...

Percuma gue cintai Yasmin sepenuh hati gue dan Yasmin cintai lo, Karna lo adalah salah satu alasan terbesar dia buat bertahan hidup, itu yang bikin arti lo begitu penting Ren Karna lo sangat penting buat Seorang Yasmin Diandra...

Thursday, 20 June 2013

Sahabat

Sahabat...
sahabat

Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api, 

Tapi satu batang korek api juga dapat membakar jutaan pohon. 

Jadi, satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif. 

Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. 

Kita mempunyai kepala, dan juga otak, jadi kita tidak perlu terbakar amarah hanya karena gesekan kecil.

Ketika burung hidup, ia makan semut.

Ketika burung mati, semut makan burung.

Waktu terus berputar sepanjang zaman. Siklus kehidupan terus berlanjut.

Jangan merendahkan siapapun dalam hidup, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita.

Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada kita.

Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita.

Waktu kita sakit, kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi HARTA.

Ketika kita tua, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan.

Dan, setelah di ambang ajal, kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Hidup tidaklah lama, sudah saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA.

Saling menghargai, Saling membantu dan memberi, juga saling mendukung.

Jadilah teman perjalanan hidup yg tanpa pamrih dan syarat.

Believe in "Cause and Effect" Apa yang ditabur, itulah yang akan kita tuai ... !!

Tuesday, 18 June 2013

KAU DAN AKU SATU

KAU DAN AKU SATU ♥♥
KAU DAN AKU SATU


Siapa sih yang nggak kenal sama kita berdua ”dua merpati” itulah julukan kita di kampus ternama di kota metropolitan ini. Aku Cewek dan dia cowok yang baru menginjak dewasa yang kemana-mana selalu bersama,makanya kita dijuluki “dua merpati” oleh teman-teman di kampus itu,heeeemmm Lucu juga.

Namaku Anggi dan cowokku Angga,nama kita pun hampir sama,mungkin kita ditakdirkan untuk berjodoh kali ya,dimana ada aku disitu pasti ada Angga,begitupun sebaliknya,kita sudah tidak bisa dipisahkan,seperti amplop dan prangko,hehehe.

Yang bisa memisahkan kita,bakal di anggap hebat banget dechsa ma orang-orang dikampus. Haha tapi jangan ngarep dech ya bisa misahin kita. Aku punya teman cewek,namanya Devi,Devi ini banyak sekali yang naksir,hem sampai suatu hari ada seorang cowok yang mau mendekatinya,tapi dia sudah angkat tangan buat ngejar-ngejar devi ini. Cowok ini namanya Deby dia ambil jurusan Biologi sedangkan Devi satu jurusan sama aku,jurusan Sastra Indonesia.


Pas pulang aku bareng sama angga,biasa tiap hari kami selalu pulang bareng,naik motor boncengan sama-sama. Dari jauh kulihat ada laki-laki yang liatin aku sama angga,ooo ternyata dia Deby cowok yang ngejar-ngejar Devi temenku itu lo. Ehm dia tersenyum padaku,akupu juga tersenyum padanya.

Pulang dari kampus Angga ngajak aku mampir dulu ketempat biasa kita nongkrong,hehe tempat makan kaki lima di jalan dekat kampus kita.
”sayank,cari makan dulu yuk aku laper”
“ayuk yank,yang penting gratis,hahaha”
“okey sayank,bisa diatur hhahha”

Setengah jam kemudian kita pulang,seperti biasa juga Angga nganterin aku sampai rumah,ayah dan bunda juga sudah kenal sama dia.
“sayank kamu nggak mampir?”
“enggak sayank,kapan-kapan aja,salam ya buat ayah sama bunda”
“iya sayank,hati-hati ya”
“oke sayank,bye-bye”

sampai rumah,aku masih terbayang senyuman deby tadi waktu aku pulang,padahalkan cowokku itu Angga,bukanya dia. Hah mungkin ini hanya perasaan sepele saja,tak lama kemudian hp ku bergetar,ku kira Angga yang sms,eh ternyata malah nomer yang tak ku kenal,hem nomer itu memanggilku hai Anggi,aku balas
“siapa ini?” dia jawab “aku Deby” hem aku bingung,darimana dia bisa dapat nomerku,aku Tanya aja “kamu dapat nomerku darimana?” dia jawab”Dari Devi teman kamu” huhhh!!!!! Dalam hatiku berkata kurang ajar si Devi ngasih nomer orang sembarangan aja. Ehm dia malah sms in aku terus,sampai sms angga pun nggk sempat aku balas,malah aku keasikan sms an sama Deby. Ya aku balas sih,tapi nggak kayak biasanya. Udah malam aku waktunya tidur.

Keesokan harinya seperti biasa ak kekampus barengan sama angga,udah sampai kampus kita ke perpus dulu sebelum masuk kelas,tiba-tiba angga mengajakku duduk dibangku pojok ruangan,
“sayank,sini dech!!!!”
“iya,ada apa kok tiba-tiba kamu serius gitu liatin aku?”
“gini yank,sebenernya aku mau ngomongin ini dari kemaren-kemaren,tapi kamunya kayak

ngehindar terus sama aku!!!”
“hah masak sih yank,perasaan tiap hari kita slalu sama-sama terus dech,emangnya kamu mau

ngomong apa sih?”
“aku mau Tanya,kenapa akhir-akhir ini kamu bls sms aku slalu lama,gak kayak dulu,apa kamu

sms an sama orang lain selain aku?”
“ah enggak,biasa aja kok,aku juga masih sama kayak dulu!!!”
“ah yaudahlah,gak usah difikir,mungkin hanya perasaanku kali ya”
“yaudah ayo masuk kelas!”
huh sebenarnya aku kasihan,terpaksa aku bohong,maafin aku angga.
Kenapa, ya akhir-akhir ini aku sering sekali mikirin si Deby. Gak disekolahan gak dirumah sama aja,bahkan mungkin sekarang sudah gak ada waktu buat mikirin Angga lagi,aku bingung aku ini kenapa,apa mungkin aku jatuh cinta??

Bell istirahatpun berbunyi,Devy ngajak aku kekantin
”Anggi ayo kekantin,aku laper ni!”
“okelah ayo!”

Ehh dikantin ada Deby,malu banget aku sama dia,dia lumayan sih cool banget,lagi-lagi devy ngusilin aku,dia malah ngajak Deby duduk disebelah ku,”hoi Deby,sini gabung sama kita” ya mau aja tuh anak,bukanya duduk disebelah Devy,eh malah duduk disebelahku. Haah malu banget!!! “eemm kalo aku liat kalian tuh cocok jadi pasangan” tuh kata devy,aku jawab aja “ehh apa-apaan kamu Devy” “hahahha bercanda gue” yaudah makan yokk. Deby cuma tersenyum,dalam hatiku berkata manis juga dia. Selesai makan kita masuk kelas lagi, Deby pun tersenyum “eh lgi-lagi Devy bilang,”pokoknya kalian berdua harus jadian hahahhahah” aku cubit aja perutnya sambil berjalan menuju kelas,huh dasar!!!

Hampir tiap malam Deby sms aku,gak tau kenapa hatiku senang banget kalau dia sms aku,memang gak bisa ku bohongi perasaanku,kalau aku beneran suka sama dia,ehm malah sms terakirnya dia bilang kalau dia saying sama aku,hemm hatiku berbunga-bunga banget,tapi bagaimana dengan angga,hem tak apalah yang penting jangan sampai dia tau soal ini.

Tanpa kusadari,aku telah begitu saja melupakan Angga,sms darinyapun jarang ku balas,telfonya jarang ku angkat,selalu saja aku bikin alas an yang bisa buat dia percaya,maafkan aku angga aku nggak bisa menjaga hatimu lagi,aku sayang sama orang lain tapi rasanya berat meninggalkanmu. Sejak deby bilang kalau dia suka sama aku,aku jadi tambah berharap banyak sama dia,aku menginginkanya tuk jadi kekasihku,tapi kenapa kalau dia suka sama aku tapi gak pernah mengungkapkan perasaanya,apa aku yang salah,selama ini terlalu banyak berharap sama dia.

Malam ini aku lagi online,biasa jam segini aku facebookan,aku buka profil dia,dan lagi dia hanya membuatku sakit,aku rela-relain ngejauh dari angga demi dia,tapi di facebook dia malah mesra-mesraan sama devy,malam itu aku menangis lalu aku menulis sebuah status yang bertuliskan” pergi saja jika kau hanya mempermainkan perasaanku” 5 menit kemudian Deby Aremania mengomentari statusku,dia bilang,”mau gak kamu jadi cewek ku” Deby Aremania itu nama facebooknya. Aku gak balas komen-nya,tapi aku langsung aja sms dia,aku bilang”apa benar koment mu barusan” dia jawab “iya benar,kamu mau gak” hem tapi aku fikir” dulu,bagaimana dengan angga,”yaudah aku jawab yaudah deh kita jalani aja dulu”. Aku tak bisa bedakan rasa bahagia dan rasa sedih,dulu sebelum dia nembak aku,aku berharap banget sama dia,eh sekarang dia udah nembak aku,malah hambar rasanya,aku bingung disisi lain aku masih pacaran sama angga meskipun sekarang hubungan kami merenggang,angga sudah cinta mati sama aku,aku putusin dia juga gak mau,aku bingung?? Yaudahlah kujalani aja,toh angga juga nggak tau kan.

Aku dan Deby pacaran hanya lewat sms,jarang ketemu,ketemupun hanya senyum-senyum doing itupun dari jauh,soalnya aku gak mau angga tau,kalau dia sampai bisa tau pati dia bakalan sedih banget. Udah 2 minggu ini aku jalani bersamanya,gak tau sudah jadi apa hubunganku sama angga saat ini,lama-lama kurasa aku jenuh,deby beda sekali dengan angga,sepertinya dia tak menganggapku,balas sms-nya lama,setiap dia menelfonku dia slalu aja sambil ngebalas sms orang lain,seakan dia tak pedulikan aku yang sedang bicara.”deby,kamu sms-an sama siapa sih,diajak ngomong malah asik ngetik,kamu anggap apa aku,orang jualan jamu?” maaf-maaf saying,tadi tuh temanku!!!” saut deby! Huh dasar langsung aku matiin aja dech telfonya,aku langsung memancal selimut,dan tak pedulikan sms yang masuk darinya.

Keesokan harinya aku bangun,seperti biasa aku langsung merapihkan tempat tidurku,pergi kekamar mandi,wudhu terus sholat,selesai solat aku berdoa sama allah”tuhan? apa ini karmaku,aku tak pernah bahagia menjalani hubungan ini bersama deby,apa ini gara-gara aku yang telah mencampakan seseorang yang benar-benar mencintaiku,tapi aku meninggalkanya demi orang lain yang tak pernah memberikan perhatianya untukku,tuhan? Tunjukanlah jalanmu,jika deby bukan yang terbaik untukku,jauhkan dia dariku,dan jika angga yang terbaik untukku dekatkanlah dan kembalikanlah dia kepadaku,amiin”!!! aku mandi,sarapan, bunda memanggilku “anggi??” iya bunda” jawabku,”ada angga diluar nungguin kamu,cepat ya!!!” iya bunda sebentar” heemm tuumben angga kesini,padahal udah 1 minggu ini dia udah nggak pernah jemput aku,sampai ayah bunda menanyakanya, tapi yaudahlah mungkin tuhan menjawab doaku,mungkin ini awal untuk memperbaiki hubungan kita.

Hari-hariku sekarang kujalani bersama angga,seperti dulu kemana-mana selalu bersama,berdua seperti amplop dan prangko,sore itu angga mengajakku maen ke sebuah taman,di dekat alun-alun kota,dia mengajakku duduk di dekat kolam di tengah-tengah taman itu,tiba” dia menatapku dengan penuh dalamnya,aku bertanya”angga kenapa kamu menatap ku seperti itu,apakah ada yang salah dengan aku?” “enggak kok nggi,aku Cuma mau bicara serius sama kamu,bolehkan?”,”boleh emang kamu mau nanya apaan”,”gini lo nggi,aku mau Tanya,apa kamu menjauhiku gara-gara kamu pacaran sama deby”,”haah darimana kamu tau ngga?”,aku tau sendiri nggi,apa benar itu?”,iya memang benar ngga,maafkan aku ngga,sebenarnya aku nggak nrima dia,tapi aku menjawab kita jalani aja dulu,eh malah dia menganggapku pacar,maafkan aku angga,meskipun begitu,hatiku tetap didirimu,aku gak bisa memberikan hatiku untuknya,sekarangpun aku udah jauh dari dia ngga?”,benarkah itu anggi? Aku juga tetap menyayangimu,meskipun kamu sudah memperlakukan aku begitu,aku mau selamanya dengan mu anggi,tapi kamu harus janji,kamu harus ninggalin deby,dan gak akan menghubunginya lagi!!!” iya angga,aku janji,ini demi kamu dan hubungan kita.

Sudah 3hari in isms deby pun nggak pernah aku balas,berkali-kali dia telfon nggak pernah aku angkat,dan pada malam itu pukul 19.00 tepatnya hari kamis tanggal 29 maret dia sms aku dan berkata”hubungan ini palsu,menjalani hubungan seperti ini,sama saja bohong,maafkan aku,aku nggak bisa meneruskan hubungan ini,maaf nggi kita harus putus,dan kita berteman saja” aku kaget,tanpa ku sadari air mata telah membanjiri pipi ini,entah perasaan senang atau sedih yang aku rasakan,disisi lain aku bersyukur karena tuhan telah menjauhkanku dari dia yang mempermainkan perasaanku,tapi disisi lain aku sedih,karena dia sebegitu teganya padaku,tapi yasudahlah ini sudah jalanya,tak perlu disesali lagi.

Keesokan harinya aku menceritakan kejadian tadi malam kepada angga,dan dia member semangat kepadaku untuk tidak bersedih,karena masih ada dia yang selalu ada. Yang selalu manjain aku,menyayangi aku,mencintaiku,selamanya,dia berjanji akan menikahiku setelah sarjana dan sesudah di sukses nanti,aku bahagia banget karena tuhan telah mengirimkan malaikat tak bersayap seperti angga,terimakasih tuhan?

7 bulan kemudian,tepatnya tanggal 29 November 2012,Kita menikah dan dihadiri banyak sekali sahabat,mulai dari teman-teman kita waktu di SMK,dan sampai Perguruan tinggi,alangkah bahagianya aku dihari itu,kita mengucap janji sehidup semati,dan semoga doa-doa sahabat dan teman-teman semua,akan membawa kita kepernikahan yang sakinah,mawadah,warohmah,amiiinn. Sepasang merpati kita lepaskan bersama senyum indah yang menghiasi pelaminan,semoga kita akan selalu bersama selamnya dan hanya maut yang akan memisahkan.AMIN

selesai....

Monday, 17 June 2013

Melati Ini Untukmu Kawan

===Melati Ini Untukmu Kawan===

Melati Ini Untukmu Kawan





Air mata ini tak hentinya mengalir di wajahku yang tertunduk lemas memandangi gundukan tanah merah pemakaman yang hampir merata. Rangkaian melati segar yang sengaja kubawa jauh jauh dari kota asalku Kendal pun kini ikut layu seakan menandakan akhir dari sebuah janji dan harapan indah untuk kembali bertemu.

Aza, seorang kawan yang telah merubah penilaian rendahku selama ini tentang pria. Sebelum aku mengenal Aza, aku selalu menganggap semua pria itu sama, tak ada yang berhati dan berotak, dan hanya dalam masa dua bulan kebersamaanku dengan Aza, hidupku kini telah banyak berubah ke arah yang lebih baik.

Aku bertemu dengan Aza kira-kira tiga tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 januari 2010, saat kami sama-sama menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di sebuah TV komunitas yang berada di daerah Magelang.

Aza datang dari Medan, sedangkan aku asli jawa tengah, jadi seringkali perbedaan kata dan logat bicara menjadi hal yang baru dan lucu bagi kami.

Tak ada yang spesial di awal perkenalanku dengan Aza, karena waktu itu pun aku menganggap Aza tak lebih dari pria bodoh, namun ternyata, waktu yang singkat telah mampu merubah anggapan itu..

Airmata bagiku adalah hal yang mustahil untuk hilang dari hidupku, dan kawan, tak lebih dari lawan yang bersembunyi dibalik senyuman yang sewaktu-waktu dapat menciptakan lebih banyak air mata.
Seperti waktu itu, saat semua anggota kelompok tugas filmku tak ada yang bertanggung jawab dengan tugasnya masing masing, sedangkan posisiku waktu itu adalah ketua kelompok yang paling bertanggung jawab atas jalannya produksi film yang ditugaskan oleh bapak Tanto, pembimbing PKL kami.

Kelemahanku adalah ketidak tegasanku, dan menangis adalah hal tak berguna yang ku ketahui namun tetap kulakukan karena hanya itu yang bisa kulakukan dalam ketidak berdayaanku, itu pendapatku yang dikatakan bodoh oleh Aza,

"Bodoh kali kau! jalan pikiranmu itu tak secerdas naskah yang kau buat!!" ucap Aza dengan nada tegas dan bijak saat tiba-tiba menemuiku yang sedang menyendiri dan menangis di belakang studio tv.

"Mereka susah kali diaturnya Za.." jawabku lemas.

Aza lalu memetik tiga buah bunga melati yang banyak tumbuh di belakang studio, Ia lalu memberikannya satu kepadaku.

"Ni makan, kau suka melati kan...?" pintanya dengan serius, aku bingung, aku memang sangat suka melati, tapi aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk memakannya.

"Ah gila kau! orang lagi stres gini disuruh makan melati!" jawabku kesal.

"Itulah kau, hanya mau menikmati keindahan dan wanginya saja.., padahal ada kenikmatan yang luar biasa jika kau mau merasakannya.." ucap Aza sambil memakan satu melati, Ia mengunyah melati itu dengan santainya lalu menelannya. Aku hanya melihatnya dengan terbengong.

"Ih, kau gila..! kan rasanya pahit...!!" ucapku pada Aza.

"Sok tau kau! emang kau pernah makan melati?" tanyanya dengan santai. Aku hanya menggelengkan kepala.

"Terus darimana kau tau kalau melati ini pahit..?" lanjut Aza, akupun tak mampu menjawabnya karna memang aku tak tau.

"Itulah yang membuat dirimu selama ini gak happy, kau hanya melihat segala sesuatunya hanya dari sudut pandang yang mudah terlihat tanpa mau melihat yang tak terlihat, padahal disitulah kau akan menemukan makna dan hikmah dari semua masalahmu..dan kau selalu memvonis buruk semua yang sebenarnya belum kau ketahui kebenarannya.." jelas Aza dengan penuh kedewasaannya yang membuatku terkagum-kagum tapi tetap tak mengerti maksud dari kata-katanya.

"Maksudnya? aku gak mudeng.." tanyaku dengan tampang blo'on.

Aza lalu membuka telapak tangan kananku dan memaksaku menerima satu melati yang tersisa ditangannya.

"Kau makanlah melati ini, baru kujelasin ntar.." jawab Aza, Ia lalu pergi meninggalkanku.

Sejak hari itu aku dan Aza sangat dekat, meski aku dan Aza memiliki adat yang jauh berbeda, namun kedewasaannya dan cara berpikirnya yang bijak telah membuatku merasa nyaman saat aku bersamanya. Diapun kuanggap sebagai abangku sendiri. Azalah yang selalu menemukanku saat menyendiri dan menangis. Ia selalu menenangkanku dengan kata-katanya yang bijak meski tak kumengerti.

Dan tibalah saat menyedihkan yang tak ingin kulalui namun itu tetap terjadi, itulah saat perpisahanku dengan Aza. Tak terasa waktu dua bulan telah berlalu, dan kami harus kembali ke jalan hidup sebelum kami bertemu. Aku harus kembali ke Kendal untuk melanjutkan sekolahku, begitu juga dengan Aza.
Pagi itu aku sengaja menjauh darinya agar tak ada air mata perpisahan, namun itu hanya sia-sia, Aza kembali menemukanku di belakang studio.

"Kenapa belum pulang kau??!!" tanya Aza yang mengagetkanku.

"Kau ngusir aku??" jawabku kesal. Aku berusaha menahan airmataku agar tidak keluar dan dilihat Aza, tapi nampaknya Aza sudah tau. Ia lalu duduk disampingku, satu tetes air mata tak mampu ku kendalikan dan mengalir di pipiku, saat aku ingin segera mengusapnya dengan tanganku, tiba-tiba Aza mencegahnya.

"Kalau mau nangis ya nangis aja, mungkin ini adalah saat terakhir kita ketemu.." Ucap Aza dengan serius, matanya tajam menatapku, memang tak ada air mata di sana, namun kesenduan itu terlihat jelas di wajahnya. Akupun tak bisa lagi membendung air mataku yang akhirnya ku biarkan keluar.
Aza hanya diam membiarkanku menangis, Ia lalu memetik dua melati dan memberikannya satu untukku.

"Ini permintaanku yang terakhir kali.., makanlah.." pintanya kepadaku. Aku menerima melati itu, namun aku menggelengkan kepala tanda aku tak mau memakannya.

"Aku mau makan, tapi kau harus janji kalau kita bisa ketemu lagi..." pintaku dengan penuh air mata.

"Kalau Tuhan yang ingin ketemu aku duluan gimana?" jawab Aza. Aku tak mengerti kata-katanya. Aza lalu tersenyum dan mengacungkan jari kelingking kanannya tanda berjanji, Akupun lalu mengkaitkan jari kelingking kananku dengan Aza, dan kami pun berjanji.

"Ntar kau yang harus datang ke Medan, dan bawakan aku melati asli Kendal, akan kucoba gimana rasanya, kita makan melati bersama nanti.." ucap Aza sambil tertawa, meski kesenduan itu masih terlihat jelas di wajahnya. Aku pun ikut tersenyum, dalam hati aku berjanji akan memenuhi permintaannya.

"Andaikan kau datang kembali, jawaban apa yang kan kuberi, adakah jalan yang kau temui, untuk kita kembali lagi.." itu adalah lagu koes plus yang sering Aza nyanyikan untukku, dan hingga kini, aku sangat menyukai lagu lawas itu, hampir setiap hari aku melihat rekaman video saat Aza menyanyikan lagu itu.

Tak terasa sudah 3 tahun aku berpisah dengan Aza, sejak satu bulan setelah kami berpisah, Aza sama sekali tak bisa kuhubungi, awalnya aku berpikir dia sibuk, tapi hingga kini Aza tak pernah memberiku kabar.

Pagi itu, saat aku melihat video rekamannya, aku teringat dengan satu permintaannya agar aku mau makan melati. Aku pun segera menuju halaman rumahku, ada satu pohon melati yang tumbuh di sana, aku lalu memetik satu melati yang sudah mekar, kucoba mengambil satu kelopak bunganya dan perlahan kumasukkan ke mulutku, awalnya terasa pahit, tapi setelah aku mengunyahnya rasanya menjadi sangat berbeda dan tak bisa kuungkapkan dengan kata ataupun tulisan. (kalau kalian mau coba aja sendiri..hohoho). Aku lalu teringat janjiku untuk datang ke Medan dan membawakan melati asli Kendal untuknya.

Entah apa yang merasuki hati orang tuaku, tiba-tiba saja mereka langsung mengijinkanku untuk berlibur ke Medan pada liburan semester tahun ini. Aku pun sangat senang dan tak sabar menanti hari itu, tak lupa aku juga membawakan melati yang kurangkai spesial untuk Aza.

Akhirnya kuinjakkan juga kakiku di kota Medan ini, dan Aku segera menuju ke alamat yang dulu diberikan Aza sebelum kami berpisah. Kurang lebih satu jam dari bandara, aku sampai di sebuah rumah yang bercat dinding serba putih. Aku lalu mengetuk pintu rumah itu, tak berapa lama keluar seorang wanita paruh baya membukakan pintu untukku, ku pikir itu ibunya, dan ternyata itu memang benar ibunya.

Aku lalu memperkenalkan diriku dan menyampaikan maksud kedatanganku untuk menemui Aza. Tiba-tiba ibu Aza menangis.

"Dulu Aza sering cerita tentang kamu, dia bilang, bertemu denganmu telah memberikan warna yang berbeda disisa waktunya..." ucap ibu Aza sambil mengusap air matanya dengan sebuah tissue. Aku bingung.

"Dulu??? emang sekarang Aza kemana??" tanyaku dengan penasaran.

Ibu Aza tak berkata apapun, Ia lalu mengantarkanku ke sebuah tempat dan meninggalkanku sendiri di sana agar aku bisa leluasa memarahi Aza yang tak menepati janjinya.

"Kau kenapa jahat kali sama aku..!! kau janji kalau kita pasti akan ketemu lagi, kau minta aku datang ke Medan, sekarang aku udah datang Za..., aku juga sudah bawakan melati yang banyak asli dari Kendal untuk kita makan bareng, Melati ini Untukmu Kawan.. Kau jangan diam aja Za..!! bangunlah..!!!" ucapku pada satu raga yang hanya diam bersembunyi dibalik gundukan tanah merah.
Air mataku tak hentinya mengalir, aku tak percaya Aza telah tiada, radang paru-paru telah menghancurkan sebuah janji dan harapan untuk kembali bertemu.

Aku lalu memakan melati yang kubawakan untuk Aza meski sudah agak layu,

"Kau lihat kan Za, aku udah makan melati ini, kau juga mau kan? ini.." Aku lalu menaburkan semua melati yang kubawa di atas pusara Aza.

"Kalau Tuhan yang ingin ketemu aku duluan gimana?"
Ternyata memang Tuhan lebih dulu ingin bertemu dengan Aza, dan aku yakin pertemuan itu pasti lebih indah daripada pertemuanku dengan Aza.

==selesai===

Sunday, 16 June 2013

Kisah Cintaku

Kisah Cintaku
 

"Hari ini adalah hari anniversay ku dengan pacar ku. Namanya doni,
yah dia orang yang slama 4 tahun ini telah mengisi hatiku dgan
kegembiraan Doni itu cwok yang baik,pengertian,humoris,
pokoknya smua sifat baik ada ddalam dirinya, kalo aku bilang dya
adlah tipe cwok idaman
aku adlah Nina, aku kuliah di salah satu universitas negeri di kota
ku , sedangkan doni kuliah di yogyakarta, kami bertemu hanya 2
kali dlam seminggu. Menurut ku itu tak apa, soalnya klo ktmu
stiap hari pasti ada rasa bosan.

Dikamar ku di pagi yang sejuk.
"sayang happy anniv yah buat hubungan kita yang 4 tahun, smoga
kita makin langgeng, dan romantic." ucap doni di telfon , yah dia
menelfon ku pagi ini. jarang loh ada cwok yg ngucapin anniv cwok
duluan, dlam hati aku beruntung memilikinya .
"hehe iyah sayangg happy anniv jga but hubungan kita yang 4
thun , kamu kapan yang ke jakarta? aku udah kangen, dan aku
udah nyiapin kado anniv kita " kataku memberi thu dya, aku
memang selalu memberi kado kado kecil untuknya.
"sma sayang aku juga udah nyiapain kado but kamu, tenang yang
aku ke jakarta kemungkinan hari ini sayang" disitu aku sangat
senang sekali krna dya akan dtang mengunjungiku di jakarta.
"bener yang, yaudah kamu berangkat dri jogya jam berapa? Nanti
biar aku jemput yang"
"ini aku mau mandi sayang, klo udh beres aku lngsung berangkat"
ucapnya membalas pertanyaan ku.
"yaudah klo gtu yangg, klo udah berangkat+nyampe bandara
telfon/bbm yah sayang "
"iyah sayang okeh, udah ya yang mau mandi, iloveyou" ucapnya
terburu buru.
"iyah sayang, loveyou too" balasku.


Entah mengapa hati ku tibatiba tidak tenang , ada rasa gelisah
yang tbtb menyelimuti ku, ya tuhan semoga tdak terjadi apa apa
pda diriku, keluarga ku, dan pda kekasih ku ;(.

_____________________________

PING PING PING
suara bbm ku berbunyi, dan itu bbm dri doni, aku read dn dya bru
saja akan terbang. Aku pun mandi dan siapsiap untk pergi ke
bandara menjemput dya. Sampai di bandara aku menunggu di salah
satu restoran yang ada disitu, dan sembari memesan makanan.
Satu jam sudah lewat dan pesawat yang doni tumpangi pun
akhirnya mendarat, aku melihat nya dari kejauhan, doni dgan
terburu buru membawa kopernya dn berjalan ke arah ku.
"sayanggg apa kabar, ? Gmna enak perjalnan nya ? " ucap ku
yang kala itu langsung memeluknya, rasanya aku tdak ingin
melepaskan pelukannya, aku ingin slama nya seperti ini, aku tdak
peduli dengan tatapan aneh dri orang sekeliling kami, aku
mempererat pelukanku berasa aku akan kehilangan dia, tapi
pikiran itu aku singkirkan.

"sayangg udah ah malu tuh di liatin orang orang lagian sakit tau
tdi di peluk nya kenceng bget sma kamu " dya pun protes, dan aku
melepaskan pelukan ku, dn beralih melihat ke wajahnya yang
mulai manja dengan ku. Aku tersenyum dlam hati.
"yaudah yuk pulang, kmu apa aku yang bawa mobil yang?" aku
bertannya pada nya.
"kamu ajah ya yang, badanku sakit grgr kelamaan duduk di
pesawat" ucap nya lanjut.
"yaudah yuk" aku pun membantu nya untk membawa koper nya.

________________________________________

Dimobil, di perjalanan pulang aku bercanda canda dengan nya.
"yang nanti dinner bareng yah, aku bakal siapin masakan
kesukaan kmu" ucapku smbil menyetir.
"hehe iyah sayangg, tapi enak gak tuh masakannya , gak asin
kaya kemaren kemaren kan ?" dya berkata smbil meledek ku.
"ihhh jahattt " aku pun cemberut dan tbtb aku tersadar klo aku
udah janji mau telfon mama klo mobilnya aku pake.
"yangg hape ku mana yakk?" aku pun merogoh saku celana ku
smbil tetap menyetir.
"kamu tdi taro mana sayang?" timpal doni .
" hhhmmm "

Di malam yang sesunyi ini aku sendri tiada yang menemani. Alunan
lagu dri peterpen_kisah cintaku itu mengalun, ternyata hape ku
ada di blkang jok.
"biar aku ajah yang ngambil yang, kmu lagi nyetir" ucap doni.
"udah gpp kok aku aja yg ngambil msih bisa kok" aku tersenyum
padanya.
Dagusapkan tangan ku pda wajah nya dan menghapus airmata dri
wajah yang sudah mulai berkeriput itu.
"ibu jgan nangis lagi yah, aku skr buktinya udah sehat,telah aku
dapat hape ku aku langsung menghadap depan, dan tbtb ada mobil
di depan kami, tnpa sadar mobil ku langsung tertabrak dan
hancur, aku lihat
Saat itu bersma ku kala kecelakaan itu. Ya, doni mana doni, knapa
dya tdak ada disini. Aku menengok ke kiri dan ke kanan , dan aku
pun menatap ibuku.
"bu, doni mana bu ? Doni gak papa kan bu ? Nina pngen ketemu
doni bu, nina pengen ktmu doni bu" aku pun bangun , namun
tubuhku di tahan oleh ibuku.
"tenang nak tenang, sebenarnya doni sudah sudah " ibuku
berhenti dan aku lihat wajahnya menahan tangis.
"doni knapa bu? Jawab" aku semakin lantang bertnya padanya .
"doni sudah meninggal sat dbwa k'rmh sakit nin" ibu ku pun tak
dpat menahan air matanya, dn seketika itu juga butiran butiran
air mata pun jatuh di wajah pucat ku ini.
"meninggal bu? Doni meninggal? Ibu bhong kan ? Gak mungkin bu,
pokoknya nina mau liatt doni sekaranggg buu !!!!" aku langsung
bangkit dri tempat tidur ku, dan berjalan terseok seok menahan
sakit yg masih aku rasakan.

"nak sudah nak sudahh, relakan lah dia nak, ibu mhon kmu jgan
seperti ini" ibu ku mengejarku dan langsung memeluk ku dari
belakang menahan aku untk tdak keluar kamar rawat.
"gk bu aku mau ketemu doni, aku mau ketemu doni, hiks hiks hiks"
aku meronta dan menangis sejadi jadinya, aku terjatuh di
pelukan ibuku dan seketika itu jga bdan ku mulai lemas dn
pingsan.

_________________________________

Aku melihat doni duduk sendri di suatu taman yang entah aku tau
tbtb aku ada dsitu. Aku mengampiri doni dan duduk
disampingnya,dya menatap ku dgan lembut dan Tbtb dya mencium
bibirku dgan lembut,memegang tanganku dgan halus.Tapi gak tau
knapa aku merasa dya semakin jauh,jauh, jauh, aku mengejarnya
nmun takbisa smpai doni menghilang pun aku hanya bisa berteriak
memanggil namanya .

______________________________________

"donii donii donii donii DONI!!!"
"nak bngun nak bangun sayangg, knp kamu?" ibu ku
menggoyangkan badanku dgan pelan agar aku terbangun.
"hosh hosh hosh ibu?" trnyata itu hanya mimpi, donii
"kamu gpp nin? "
"aku gpp kok bu" aku tersnyum pada ibuku

_____________________________________________

2 bulan sudah aku telah kehilangan orang yg aku sayang yaitu
doni, 1 bulan yg lalu aku mencoba untk bunuh diri di jembatan yg
bias menangis rasanya aku ingin berteriak
"hey lepas kan lah beban mu" ucapnya dgan masih menatap lurus
sungai dri kejauahan. "mksud mu?" aku bingung
"ya lepaskan, berteriak lah sekencang kencangnya, biasanya itu
akn mengurangi frustasi seseorang" dya tbtb tersenyum pda ku,
senyuman itu snyuman itu, aku merasakan doni ada di dalam
dirinya, siapa lelaki ini, aku bertnya ddlam hati. Tnpa pikir
panjang aku pun berteriak sekencang kencangnya.

"AAAARRRRRGGGGGHHHHKKK" aku merasa lega mskipun msih ada
yg mengganjal di dalam hatiku.Aku harus merelakan doni, ya aku
harus merelakannya .
"gimana ? Enakan skr?Siapa nama mu?" dya tersnyum dn
mengulurkan tngannya .
"Nina" aku hnya menjwabnya dgan singkat.
"aku Angga, nama mu bagus, sma seperti yg punya " dya tersnyum
kembali, entah mengapa senyum itu mirip skali dgan doni, apa
tuhan telah mengirimkan lelaki untk membuat ku tdak bersedih
lagi? Atw untk menggantikan doni ? Entahlah, yg terpenting aku
percya bhwa tuhan telah merencanakan yang terbaik but ku ****
Yap , lelaki itu adalah Angga, kalian taw dya spa ku skrang?
Skrang dia telah resmi menjadi suami ku, setelah selama 3 bulan
mencoba melamarku dn pada akhirnya pun aku luluh di buatnya ,
aku menerima lamarannya dan menikah degannya, aku berkata da

Kisah Cintaku
lam
hati, tuhan terima kasih tuhan kau telah mengirimkan jodoh
sebenarnya untuk ku, semoga dya terbaik buat aku. Itulah kisah
cintaku yang terisi kan oleh rasa sedih dan gembira, aku belajar
arti mencintai, aku belajar arti ditinggal kan, dan aku akan slalu
mencintai Angga yg telah menjadi imam dalam hidupku saat ini.

selesaii....

Friday, 7 June 2013

RINDUKU KENANGANKU


RINDUKU KENANGANKU

RINDUKU KENANGANKU


Cahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore membuat daun-daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan aku gemar melukis di tempat-tempat yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, membuat hidupku lebih berarti.
Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran.
“Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”
Dengan rasa penasaran, aku sambil mengemas peralatan lukisku dan mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup.

________________________________

Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, setelah pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek rumahnya dengan perasaantakut karena selalu pulang telat.
Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.
“Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?
“Aku mencarimu! Kata Diana
“Aku main basket di tempat biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah buatmu khawatir.”
“Entahlah…. Sudah dulu ya, bau banget nih.
“Huuhh,, dasar cewek gadungan, aku dicuekin lagi…! Kesal Diana
Dengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan dekat lemari kaca yang penuh dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia merasakan tenangnya dunia di laut lepas.

__________________________________
Lintang segera membersihkan dirinya karena takut ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas kursi yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya terasa sesak. Lintang bingung dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari kursi tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangkit ke tempat tidur dan beristirahat.

_____________________________________
Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang, membuat siswi SMA ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh nyata membawa ia larut dalam impian.
“Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar aku kan? Kejut Lintang
“Hmm,, ngapain juga aku gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..
Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan teman yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan karena tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi lainnya. Dan anak-anak yang lain sebaliknya sudah merasa biasa dengan sikap mereka itu.
“Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_
“Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)
Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak mampu terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang tua Lintang dan membawanya ke rumah sakit..
“Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)
“Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)
“Aku sakit apa? Mana ayah?”
“Dokter masih belum memberitahukan pasti penyakitmu. Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa belajar bareng, kan kamu udah janji kemaren.”
“Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kamu pasti sembuh. Semangatlah, aku akan ada di sampingmu..”
“Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku. Hhaha…”
“Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong aku bisa. Hhehe”
“Ya deh,, buktikan ke aku ya nanti.”
“Iya, pasti. Suatu saat kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”
“Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"
______________________________________

Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.
“Hai, kenapa kamu sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran
“Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”
“Jangan seperti anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu sedih?” penuh heran
“Tadi, ketika ada pemilihan bakat pemain biola, aku ada kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak enak didengar. Mereka menertawakanku, padahal aku baru saja pindah ke sekolah ini jadi aku masih belum pandai memainkan alat musik seperti biola ini..”
“Kamu sudah hebat kok, kamu bisa memainkan alat musik kesukaanku, dan aku… aku hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu ya..”
“Thengs.. siapa namamu?”
“Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)
Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.
(Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.
Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang melamun segera menghampirinya.
“Diana, kenapa kamu?”
“Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”
“Kamu bohong, da masalah ya? Tidak biasanya kamu seperti ini!”
“Ii..ia bu.”
“Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu seperti ini?’
“Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan sepertinya penyakitnya parah.”
“Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya” ajak bu Tari
“Ibu mau menjenguknya? “
“Iya,, nggak apa-apa kan?”
“I..ya. nggak masalah.” Semangat Diana
Ibu Tari adalah guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau memiliki jiwa keibuan, walaupun beliau belum menikah. Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.
Ibu Tari memberi semangat Diana, membuat ia semangat pula bertemu Lintang. Ia menyelesaikan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia mendapat pujian dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya akan diikutkan dalam pameran lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk Lintang.
Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, suara mereka menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di atas potongan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.
“Hai, belum pulang?" Sapa Diana
“Hmmn. Belum Diana’
“Ngapain kamu sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari
“Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana
“Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”
“Ohh, namamu Lizy ya?”
“Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”
“Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu mau ikut?”
“Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai membakar kulit nih..” ajak Lizy
“Hhhhaha….” Sambung Diana

_____________
Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya meliputi kedua sahabat ini. Dalam keadaan yang tak mudah untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada kumpul.
“Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy
“Ya, lumayan lah, agak mendingan.” Dengan suara datar sambil menunduk.
Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya
“Bagaimana bisa kamu di sini Zy?”
“Syukurlah. Tadi aku diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang terbaring saat ini adalah sahabatku.”
“Sebenarnya, kamu sakit apa sih?” sambung Diana
“a..ku, sakit Leukimia..”
Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang langsung terdiam ketika ia memainkan dasinya..
“Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini aku tak akan membuat kalian kecewa”
“Jangan bilang begitu, yakinlah kamu masih bisa bermain basket lagi..” sahut Deva
“Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga kamu cepat sembuh.” Sambung bu Tari
( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva teman basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya walaupun Diana dan Lizy merasakan halyang sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan setelah semuanya membeku.
“Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”
“Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.
“Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, pasti mengkhawatirkanmu. Asalamualaikum…” kata bu Tari
“walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”
Suasana berubah menjadi hening kembali..
“Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik Diana)
“Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.
Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang tua Lintang pergi bolak balik mencari uang.
“Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang
“Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”
“ohh, ya. Besok mungkin aku sudah diperbolehkan pulang jika kondisiku stabil”
“Cepat sembuh, ya”……

________________________
Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya.

Malam ku sepi..
Tak sanggup ku mengungkapkan
Air mata membendung di kelopak mataku..
Walaupun aku tertawa, tapi aku tetap merasakan bila hati ini menangis melihat nya tersenyum.
Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu…
Kamu_sahabat_Terbaikku

Ia simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang baru dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat lelah memutuskan untuk menginap. Mereka terbaring di tempat tidur, namun tak ada salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan sesuatu….

3 hari kemudian…

Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan tempat mereka duduk. Sedangkan Lizy bersiap-siap di atas rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.
Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya menandakan Lizy yang memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua tentang kita” sambil bernyanyi.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat duu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kitaberduka saat kita tertawa

Ketika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana seperti di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Diana membuka pembicaraan.
“Dan aku baru ingat. Dulu ketika aku melukis sendiri di sini aku kagum dan penasaran siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”
“Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya karena semenjak aku tinggal di sini aku sangat kesepian. Dan ketika aku menemukan tempat indah ini, setiap sore di waktu luangku, aku bermain biola. Kebetulan, aku melihat seorang gadis sedang melukis.”
“waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri yang membuat acara ini dan kalian juga yang mendapatkan kejutan. Ketika pertama kali bertemu Diana, aku juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan teman-temanmu. Jika aku pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”
“Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kamu Lintang, si cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kamu bisa bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.
“Emang aku bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus Lintang
Diana tak ingin membuat hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa gitarnya dan langsung duduk di tikar.
“Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja duduk.” Judes Diana
“Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang
“Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin acara kita.” Sebel Diana
“Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong aku ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa dekat sama cowok popular di sekolah. hitung-hitung kesempatan buat kalian.”
“Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy
“Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva
“Ah, kamu ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis namamu ya.. hahaha
“hhuuhh…”
Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara mereka baru saling mengenal, tapi mereka seperti mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari mereka selalu bersama.

__________________
Waktu yang tepat ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani rencana kedua mereka. Mereka sudah mengatur strategi agar lukisan Diana laku terjual. Hampir 2 minggu penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang terkumpul lumayan banyak, dan segera mereka berikan pada orang tua Lintang tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya, akhirnya ikut membantu juga.
Di waktu yang bersamaan mereka datang ke rumah Lintang secara tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya. Kekhawatiran mereka tak dapat dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang adalah anak semata wayang orang tuanya.
Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari rumah sakit karena keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang hanya memiliki tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa, Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan.

____________________________
Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.
“Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)
“Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Diana
“Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas Lizy
Bunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang tampak lebat, membuat para siswa harus menunggu sampai hujan reda. Tiba-tiba handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa handphone, suara di seberang membawa berita buruk.
Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah. Orang tua Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah kehendak-Nya. Orang tua Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya.

___________________________

“Tak sempat ku berikan
Tak sempat ku sampaikan”
_LiDiZyVa_

Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka nyanyikan.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Belum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya. Orang tua Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi kebanggaan orang tua angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa penasaran membuat ia segera membuka dan membacanya seperti sedang lomba baca puisi.

Sahabatku impianku
Cita-citaku imajinasiku
Bukan hal yang salah memiliki mimpi
Bukan hal yang salah mempunyai tujuan
Tujuan seperti sinar
Kesana lah kita berlari
Dan untuk itulsh kita hidup
Tapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukan
Membuat kita sulit melihat
Sehingga tiba suatu saat kita harus sejenak berhenti
Untuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri

“Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker karena fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi aku salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya.
“Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.
Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.
“Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” akhirnya selesai”
“Waahh..keren.!”
Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah karena di sekitar tulisan itu ada gambar wajah mereka masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan tempat inilah aku dan sahabatku berbagi walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang.

SELESAI

Foto: RINDUKU KENANGANKU((Cerpen romantis))Cahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore membuat daun-daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan aku gemar melukis di tempat-tempat yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, membuat hidupku lebih berarti.                Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran.                “Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”                Dengan rasa penasaran, aku sambil mengemas peralatan lukisku dan mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup. * * * Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, setelah pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek rumahnya dengan perasaantakut karena selalu pulang telat. Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.                “Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?                “Aku mencarimu! Kata Diana                “Aku main basket di tempat biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah buatmu khawatir.”                “Entahlah…. Sudah dulu ya, bau banget nih.                “Huuhh,, dasar cewek gadungan, aku dicuekin lagi…! Kesal Diana                Dengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan dekat lemari kaca yang penuh dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia merasakan tenangnya dunia di laut lepas. * * *                Lintang segera membersihkan dirinya karena takut ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas kursi yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya terasa sesak. Lintang bingung dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari kursi tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangkit ke tempat tidur dan beristirahat. * * *                Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang, membuat siswi SMA ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh nyata membawa ia larut dalam impian.                “Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar aku kan? Kejut Lintang                “Hmm,, ngapain juga aku gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..                Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan teman yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan karena tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi lainnya. Dan anak-anak yang lain sebaliknya sudah merasa biasa dengan sikap mereka itu.                “Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_                “Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)                Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak mampu terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang tua Lintang dan membawanya ke rumah sakit..                “Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)                “Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)                “Aku sakit apa? Mana ayah?”                “Dokter masih belum memberitahukan pasti penyakitmu. Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa belajar bareng, kan kamu udah janji kemaren.”                “Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kamu pasti sembuh. Semangatlah, aku akan ada di sampingmu..”                “Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku. Hhaha…”                “Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong aku bisa. Hhehe”                “Ya deh,, buktikan ke aku ya nanti.”                “Iya, pasti. Suatu saat kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”                “Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!" * * *                Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.                “Hai, kenapa kamu sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran                “Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”                “Jangan seperti anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu sedih?” penuh heran                “Tadi, ketika ada pemilihan bakat pemain biola, aku ada kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak enak didengar. Mereka menertawakanku, padahal aku baru saja pindah ke sekolah ini jadi aku masih belum pandai memainkan alat musik seperti biola ini..”                “Kamu sudah hebat kok, kamu bisa memainkan alat musik kesukaanku, dan aku… aku hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu ya..”                “Thengs.. siapa namamu?”                “Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)                Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.                (Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.                Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang melamun segera menghampirinya.                “Diana, kenapa kamu?”                “Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”                “Kamu bohong, da masalah ya? Tidak biasanya kamu seperti ini!”                “Ii..ia bu.”                “Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu seperti ini?’                “Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan sepertinya penyakitnya parah.”                “Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya” ajak bu Tari                “Ibu mau menjenguknya? “                “Iya,, nggak apa-apa kan?”                “I..ya. nggak masalah.” Semangat Diana                Ibu Tari adalah guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau memiliki jiwa keibuan, walaupun beliau belum menikah. Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.                Ibu Tari memberi semangat Diana, membuat ia semangat pula bertemu Lintang. Ia menyelesaikan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia mendapat pujian dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya akan diikutkan dalam pameran lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk Lintang. Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, suara mereka menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di atas potongan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.                “Hai, belum pulang?" Sapa Diana                “Hmmn. Belum Diana’                “Ngapain kamu sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari                “Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana                “Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”                “Ohh, namamu Lizy ya?”                “Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”                “Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu mau ikut?”                “Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai membakar kulit nih..” ajak Lizy                “Hhhhaha….” Sambung Diana * * *                Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya meliputi kedua sahabat ini. Dalam keadaan yang tak mudah untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada kumpul.                “Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy                “Ya, lumayan lah, agak mendingan.” Dengan suara datar sambil menunduk.                Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya                “Bagaimana bisa kamu di sini Zy?”                “Syukurlah. Tadi aku diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang terbaring saat ini adalah sahabatku.”                “Sebenarnya, kamu sakit apa sih?” sambung Diana                “a..ku, sakit Leukimia..”                Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang langsung terdiam ketika ia memainkan dasinya..                “Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini aku tak akan membuat kalian kecewa”                “Jangan bilang begitu, yakinlah kamu masih bisa bermain basket lagi..” sahut Deva                “Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga kamu cepat sembuh.” Sambung bu Tari                ( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva teman basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya walaupun Diana dan Lizy merasakan halyang sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan setelah semuanya membeku.                “Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”                “Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.                “Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, pasti mengkhawatirkanmu. Asalamualaikum…” kata bu Tari                “walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”                Suasana berubah menjadi hening kembali..                “Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik Diana)                “Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.                Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang tua Lintang pergi bolak balik mencari uang.                “Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang                “Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”                “ohh, ya. Besok mungkin aku sudah diperbolehkan pulang jika kondisiku stabil”                “Cepat sembuh, ya”…… * * * Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya. Malam ku sepi.. Tak sanggup ku mengungkapkan Air mata membendung di kelopak mataku.. Walaupun aku tertawa, tapi aku tetap merasakan bila hati ini menangis melihat nya tersenyum. Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu… Kamu_sahabat_Terbaikku                Ia simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang baru dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat lelah memutuskan untuk menginap. Mereka terbaring di tempat tidur, namun tak ada salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan sesuatu…. 3 hari kemudian…                Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan tempat mereka duduk. Sedangkan Lizy bersiap-siap di atas rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.                Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya menandakan Lizy yang memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua tentang kita” sambil bernyanyi. Waktu terasa semakin berlalu Tinggalkan cerita tentang kita Akan tiada lagi kini tawamu Tuk hapuskan semua sepi di hati Teringat di saat kita tertawa bersama Ceritakan semua tentang kita Ada cerita tentang aku dan dia Dan kita bersama saat duu kala Ada cerita tentang masa yang indah Saat kitaberduka saat kita tertawa                Ketika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana seperti di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Diana membuka pembicaraan.                “Dan aku baru ingat. Dulu ketika aku melukis sendiri di sini aku kagum dan penasaran siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”                “Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya karena semenjak aku tinggal di sini aku sangat kesepian. Dan ketika aku menemukan tempat indah ini, setiap sore di waktu luangku, aku bermain biola. Kebetulan, aku melihat seorang gadis sedang melukis.”                “waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri yang membuat acara ini dan kalian juga yang mendapatkan kejutan. Ketika pertama kali bertemu Diana, aku juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan teman-temanmu. Jika aku pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”                “Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kamu Lintang, si cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kamu bisa bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.                “Emang aku bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus Lintang                Diana tak ingin membuat hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa gitarnya dan langsung duduk di tikar.                “Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja duduk.” Judes Diana                “Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang                “Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin acara kita.” Sebel Diana                “Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong aku ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa dekat sama cowok popular di sekolah. hitung-hitung kesempatan buat kalian.”                “Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy                “Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva                “Ah, kamu ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis namamu ya.. hahaha                “hhuuhh…”                Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara mereka baru saling mengenal, tapi mereka seperti mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari mereka selalu bersama. * * *                Waktu yang tepat ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani rencana kedua mereka. Mereka sudah mengatur strategi agar lukisan Diana laku terjual. Hampir 2 minggu penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang terkumpul lumayan banyak, dan segera mereka berikan pada orang tua Lintang tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya, akhirnya ikut membantu juga.                Di waktu yang bersamaan mereka datang ke rumah Lintang secara tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya. Kekhawatiran mereka tak dapat dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang adalah anak semata wayang orang tuanya.                Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari rumah sakit karena keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang hanya memiliki tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa, Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan. * * *                Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.                “Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)                “Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Diana                “Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas Lizy                Bunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang tampak lebat, membuat para siswa harus menunggu sampai hujan reda. Tiba-tiba handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa handphone, suara di seberang membawa berita buruk.                Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah. Orang tua Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah kehendak-Nya. Orang tua Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya. * * * “Tak sempat ku berikan Tak sempat ku sampaikan” _LiDiZyVa_ Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka nyanyikan. Waktu terasa semakin berlalu Tinggalkan cerita tentang kita Akan tiada lagi kini tawamu Tuk hapuskan semua sepi di hati Belum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya. Orang tua Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi kebanggaan orang tua angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa penasaran membuat ia segera membuka dan membacanya seperti sedang lomba baca puisi. Sahabatku impianku Cita-citaku imajinasiku Bukan hal yang salah memiliki mimpi Bukan hal yang salah mempunyai tujuan Tujuan seperti sinar Kesana lah kita berlari Dan untuk itulsh kita hidup Tapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukan Membuat kita sulit melihat Sehingga tiba suatu saat kita harus sejenak berhenti Untuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri                “Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker karena fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi aku salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya.                “Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.                Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.                “Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” akhirnya selesai”                “Waahh..keren.!”                Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah karena di sekitar tulisan itu ada gambar wajah mereka masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan tempat inilah aku dan sahabatku berbagi walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang. SELESAI